Elita Duatnofa

Selamat bertemu kembali dengan catatan perjalanan murah meriah ala-ala saya,  hihihi.

Sebelumnya saya mau bilang,  ngetrip itu perlu ya.  Bukan buat foya-foya atau gegayaan, melainkan buat refresh jiwa raga dari aktifitas sehari-hari dan beban hidup yang beragam.  Baru saya sadari,  rupanya memang harus ada budget khusus yang mesti disisihkan untuk sebuah perjalanan yang rutin namun random, setidaknya 1-2 bulan sekali. Jika dulu jaman SD diajarkan bahwa piknik adalah kebutuhan tersier,  maka sepertinya kenyataan hidup membuat posisi piknik bergeser naik menjadi sekunder. (Apa ini bisa-bisanya saya aja?  πŸ˜)

Ngetrip,  tidak harus mahal, tidak mesti jauh,  dan tidak identik dengan mewah. Ngetrip,  bukan sekadar kegiatan menghabiskan waktu dan membuang uang. Saya mulai memahami ngetrip dalam definisi yang lain, yaitu belajar.  Sebab ada banyak sekali hal baru yang bisa didapat,  termasuk juga cara pandang dan memaknai rasa syukur akan hidup yang telah dan sedang kita jalani.  Pada akhirnya,  hakikat ngetrip tergantung pada bagaimana seseorang memandang perjalanan itu sendiri.

Nah,  perjalanan murah meriah ala saya kali ini adalah Cisoka,  yeeey akhirnya kesampaian juga nyamperin tempat ini setelah puluhan kali nyaksiin fotonya doang di Instagram. πŸ˜†

Berdasarkan informasi dari sumber yang valid, telaga Cisoka semakin sore semakin ramai. Kenapa?  Karena katanya sunset di sini bagus. So,  banyak kaum pecinta fotografi yang berburu sunset di tempat ini. Oleh sebab itu,  saya dan suami memutuskan untuk datang ke sana sepagi mungkin. Saking paginya,  selepas azan subuh dan setelah menunaikan sholat kami langsung berangkat,  tepat pukul 04.50 pagi. Nah,  jalanan kosong dong yaaa,  ya jadinya cuma dengan 1,5 jam perjalanan kami pun sampai ke Desa Cisoka Kabupaten Tangerang.

Telaga pertama yang akan kita jumpai di sana adalah telaga yang paling besar. Saking jernih airnya,  telaga ini jadi seperti kaca yang mefleksikan apa yang ada di langit.  Ini fotonya:


Terus di mana tiga danau yang lain?  Kita lanjutkan perjalanan beberapa puluh meter ke depan, maka akan kita masuk ke jalan yang terdapat gapura bertuliskan "Selamat Datang di Cisoka". Setelah melewati gapura,  kita akan diminta membayar tiket masuk seharga lima ribu untuk motor, dan sepuluh ribu untuk mobil. Nantinya saat pulang kita akan dimintai uang lagi dengan nominal yang sama.  Uang ini, adalah untuk biaya pengembangan desa Cisoka itu sendiri, termasuk untuk pengajian dll.

Telaga selanjutnya yang saya temukan adalah telaga berwarna biru. Yang saya amati, semakin siang semakin biru warnanya. Sayangnya,  penjaga getek dan perahu belum datang karena masih terlalu pagi πŸ˜….



Akhirnya,  saya lanjut lagi melihat telaga berikutnya, jaraknya lumayan dan ada naik turunnya sedikit seperti hidup 😝. Tapi saya malah semangat karena saya anggap ini kesempatan membakar kalori. Nggak terlalu jauh sih sebenenrnya,  paling lima puluh meter deh.


Eits. Sebelum ke telaga lainnya,  nggak lupa foto berduaan buat stok ganti DP whatsapp sebulan ke depan.  Hihi. 

Dan taraaa,  dua danau selanjutnya rupanya berdampingan,  seperti aku dan dia 😚. Jadi nggak perlu menempuh jarak lagi buat melihat telaga terakhir. Kalo mau menempuh hidup baru sih nggak apa-apa buat para jomblo. Inilah foto dua telaga yang berdampingan itu, warnanya toska dan hijau lumut,  btw maafin karena di foto ada sayanya.... πŸ™†πŸ™


Habis itu, daripada bengong,  sambil menunggu abang getek saya pun berusaha mengabadikan ikan yang berenang di salah satu telaga itu, eh tapi ga bisa diupload di sini karena saya pakai HP nulisnya. 

Setelah melas cerita ke salah satu warga bahwa saya datang dari jauh dan berangkat sejak subuh,  maka beliau pun menelepon seseorang yang sepertinya adalah Si Abang Getek. Dan benar aja,  beberapa menit kemudian Si Abang pun datang,  yeeeeey!  Padahal biasanya jam 10 baru datang abangnya xixixixi. 

Akhirnya naik getek juga kita, getek cintak katanya mah.... Eheuy πŸ˜πŸ’ƒ




Di getek inilah kami ngobrol dengan Si Abang getek yang kelihatannya lebih cocok kami panggil "Pak". Beliau bercerita banyak tentang sejarah terbentuknya telaga-telaga cantik di Cisoka ini. Bermula dari galian pasir yang menjadi sumber penghasilan warga setempat,  yang kemudian harus ditutup karena lokasi tersebut tak miliki izin untuk jadi area penambangan. Hingga ribuan warna katanya hilang pekerjaan dan kebingungan. Selama ini dari galian pasir itu sajalah mereka menafkahi keluarganya. Berbulan kemudian,  cekungan bekas galian pasir itu mulai menampung air hujan hingga membentuk telaga.  Tak hanya itu,  setiap telaga mulai menampakkan warnanya sendiri-sendiri. Dan berkatalah si Bapak,  bahwa warga kemudian merasakan bahwa itu adalah jalan keluar dari Allah untuk mereka. Satu persatu pengunjung datang,  hingga kini setiap sorenya terjadi antrian panjang dari pengunjung yang ingin berfoto di atas getek dan perahu. Masya Allah,  saya sangat takjub mendengar cerita Si Bapak,  mendapati cara Allah yang begitu luar biasa dalam merancang skenario kehidupan di desanya. 



Setelah puas berbincang, dan kebetulan pengunjung mulai ramai ingin berfoto di atas getek juga,  kami pamit pada Si Bapak untuk kembali berfoto di telaga yang paling biru. Tapi,  akang jenggot nggak mau ikutan naik karena takut hihi.  Ia lebih memilih makan indomie di warung pinggir telaga. Saya sih juga takut,  tapi hasrat saya buat punya foto bagus mengalahkan rasa takut saya.  Lagipula,  ada banyak orang dan banyak abang yang jaga.  Jadi walau hati bergetar,  saya mati-matian berusaha tak gentar.  πŸ™


Oya,  kalau mau naik getek atau perahu,  kita perlu membayar sepuluh ribu saja perorang,  dan itu sudah termasuk jasa difotoin sama si abangnya. Kalau pagi gini,  belum ramai jadi si abang bisa ambil foto kita sebanyak-banyaknya dan kita tinggal sortir deh. Hanya saja yang mengganjal adalah keberadaan warung-warung yang kurang tertata. Seandainya pemerintahnya tanggap,  mungkin penataannya bisa jadi lebih cantik.

Well, itulah trip saya kali ini.  Semoga infonya bisa berguna yaa.  Dan jangan lupa,  dalam kehidupan ada perjalanan,  begitu pun dalam perjalanan ada kehidupan.  πŸ˜ŠπŸ˜Š
Elita Duatnofa

Berhubung Zytta & Qai ada acara di UI dan itu fullday, maka sebagai orang tua yang kreatif dan inovatif,  saya dan Pak Jenggot berinisiatif untuk keluar lagi berduaan.  πŸ˜‚ Kali ini kami mengunjungi LIPI ecopark Cibinong,  yang konon disebut sebagai Kebun Raya Cibinong (Kabupaten Bogor). 

Seperti biasa,  sebagai korban foto-foto di instagram,  kami cuma tahu nama tempatnya tanpa benar-benar tahu itu tempat ada di mana.  Thanks to Lars and Jens Eilstrup Rasmussen yang menawarkan petanya pada Larry Page and Sergey Brin pendiri Google, hingga terciptalah Google Maps.  😍

Dari Depok,  kita tinggal ikutin jalan menuju Cibinong. Saya sarankan untuk lewat Kota Kembang saja karena lebih cepat dan lancar.  Sampai Cibinong,  terus saja sampai melewat Pemda,  Cibinong City,  Cibinong Square,  lalu keluar ke Jalan Raya Bogor belok kanan kemudian ketemu deh LIPI Ecopark ini. Lebih gampang lagi kalau dari Kota Kembang keluar langsung menuju Jalan Raya Bogor lalu ke kanan. Sampai di lokasi kita tinggal masuk saja lurus ikuti jalan dan akan segera sampai di Danau Dora di sebelah kanan.

Kawasan LIPI Ecopark ini cukup luas dan asri.  Ada beberapa kantor dan rumah yang ada di sana.  Saya juga sempat melihat sebuah bangunan bertuliskan Wahana Edukasi Anak. Tapi saya nggak begitu tahu wahana seperti apa di dalamnya.

Sampai di parkiran,  kita langsung ditanya mau masuk ke dalam atau nggak.  Kalau iya,  kita dimintai uang masuk yang tak bertiket sebesar lima ribu rupiah perorang.  Ssst,  saya jadi penasaran deh apa yang akan terjadi andai saya jawab nggak mau xixixi. 

Pas masuk,  saya nilai ya lumayanlah.  Mirip dengan taman-taman yang ada di Depok cuma di sini ada danau luas. Pas kami jalan lagi,  eh lumayan banget lah buat foto-foto mah hihihi.  Ada spot khsusus ilalang merah,  ada jalan kayu yang membelah danau,  ada padang ilalang hijau,  hutan mini dengan pohon besar juga ada.  Sayangnya,  toiletnya nggak bersih,  bau,  dan lampunya mati. 

Setelah puas berfoto,  kami pulang karena harus menjemput Zytta Qai di UI.  Eh pas di parkiran,  pengunjung yang baru datang dikenakan tarif masuk sepuluh ribu rupiah perorang. Naik dua kali lipat dari tarif yang tadi saya bayar.  Kayaknya makin sore tarif masuknya makin mahal. Ck ck ck.  Padahal Kebun Raya Bogor aja nggak semahal itu ya.  Mudah-mudahan selanjutnya tempat ini dikelola dengan lebih baik dan dengan HTM yang resmi.  Amiiin.

Elita Duatnofa

Lagi-lagi,  katakanlah Pak Jenggot sedang pulang cepatπŸ™†. Jadi,  ada semacam bisikan ghaib yang mendesak saya buat ngajakin doi buat keluar sebentar dan mencari udara lain. Jadwal mengajar pun saya cancel buat memuluskan rencana bulus ini.

Saya emang penasaran banget sama Danau Quary yang saya lihat di instagram people jaman now. Singkat cerita,  doi pun bersedia saya ajak ke sana. Sebetulnya nggak susah buat ngajakin suami saya itu,  sebab kemana pun saya pergi memang selalu ada bayangnya, maksudnya doi emang tipe lelaki yang hobi banget nganterin istri kemana-kemana. Alhamdulillahnya istri sendiri,  bukan istri orang.

Maka sore itu pukul 3 lewat persis setelah ashar,  kami berangkat berduaan dan motoran ke sana. Kami menempuh perjalanan lewat Sawangan - Parung - Ciseeng - Rumpin - Danau Quary.

Mulai dari Ciseeng, jalannya ajrut-ajrutan karena aspalnya banyak yang rusak. Sempat juga panorama sawah dan hutan kami nikmati,  termasuk jembatan yang melintas di atas sungai yang lebar,  saya nggak tahu nama sungainya,  maaf ya,  hehe.

Dan selepas Ciseeng,  kami mesti berbagi jalan dengan truk-truk jumbo pengangkut batu dan pasir... sepanjang jalan. Segitu banyaknya truk pasir,  bisa dibayangkan ya gimana keadaan jalan pada akhirnya. Iya,  berdebu luar biasa.  Alhamdulillah pakai masker. Tapi mata saya sampai terasa tebal akibat debu yang menghantam berkilo-kilo meter.

Suasana yang berbeda yang nggak kita temukan di Depok ataupun Jakarta bisa kita temui nih di sini.  Kalau boleh menilai,  agak sedikit mirip dengan keadaan Depok (khususnya kelurahan saya)  sekitar 30 tahun yang lalu. Tapi buat saya,  justru di situlah serunya. 😘

Oya, seperti biasa kami mengandalkan GPS sebagai pemandu. Kalau bingung,  bisa tanya sama warga sekitar,  semua tahu kok Danau Quary ini.

Danau Quary belum dikelola dengan baik,  tapi justru di situ juga daya tariknya.  Karena pada akhirnya danau ini menyajikan pemandangan dan suasana yang maaasiiiih sangat asri dan asli. Cuma nggak enaknya,  Si Bapak yang jaga di situ suka minta tarif berkunjung seenaknya aja.  Jadi ada baiknya begitu sampai di sana tanya dulu tiket masuknya,  jangan sampai kayak saya yang pas pulang baru nanya berapa,  alhasil kena tembak,  dorr!! 😡😱

Danau Quary sebetulnya adalah bekas galian pasir yang dibiarkan begitu saja.  Lama-kelamaan cekungan besar itu menampung air hujan hingga terbentuk danau seperti sekarang.  Jadi, terbentuknya secara tidak sengaja. 

Untuk menuju danau,  kita mesti jalan menurun sedikit di jalan setapak berbatu yang belum dirapikan.  Tak lama kemudian,  hamparan air berwarna hijau toska sudah terlihat.  Di salah satu sudut,  nampak warga memancing ikan di tepian.  Di sudut lain,  pengunjung sedang mengabadikan gambar.  Titik memancing dan wisatawan saat ini memang dipisah, katanya agar tidak saling terganggu.

Karena kami tiba di sana sudah pukul 5.15, jadi nggak bisa berlama-lama, hari juga mulai gelap.  Setelah puas berfoto,  saya dan Pak Jenggot segera pulang.  😁

Saran dari saya jika kamu mau ke Danau Quary:


- Datanglah ke sana di sore hari saat udah nggak terik,  tapi jangan kesorean juga kayak saya, hasilnya malah nggak puas 😭. Atau datanglah di pagi hari sebelum matahari menjadi terik.
- Tanyakan langsung ke penjaga saat baru datang, berapa rupiah yang harus dibayar buat titip kendaraan dan masuk ke area danau.
- Bawa minuman dan makanan,  karena belum tersedia warung di sekitar danau.
- Kalau datang di weekdays,  bawalah tripod ataupun tongsis. Karena pengunjung cenderung sepi dan khawatir bingung mau minta tolong fotoin sama siapa.
- Bawa juga masker ya.




Elita Duatnofa

Berhubung saya udah lama banget nggak nulis, jadi saya putuskan buat membersihkan sedikit blog yang sudah berlumut ini dengan reportase ngebolang murah meriah ala-ala saya.

Sebetulnya, saya bukan tipe orang yang rajin jalan-jalan. Bukan karena nggak suka, tapi anggarannya yang jarang ada, hihihi. Tapi belakangan ini instagram membuka mata saya bahwa jalan-jalan itu nggak harus mahal dan jauh sampai luar kota. Dengan sedikit kreativitas dan sentuhan filter kamera HP, foto hasil jalan-jalan kemana pun jadi terlihat kece kok. 

Akhirnya, saya ngerengek ke Pak Jenggot (which is my beloved husband) buat ngajak saya jalan-jalan sedikit dan membuat saya lupa sejenak dengan segala riweuhnya dunia ini. Setelah browsing sana-sini, tengok hastag instagram selama berminggu-minggu (i’m a prepare person indeed) akhirnya didapatlah tempat refreshing yang lumayan dekat, bagus, ngehits, tapi m u r a h: RANGGON HILLS.

Habis subuh, saya berdua Pak Jenggot langsung berangkat. Ups! Tapi itu cuma rencana, karena seperti biasa, kami selalu berangkat satu jam lebih lambat dari rencana aslinya. Jadi, kami berangkat tepat pukul 05.45 waktu Depok. Berduaan naik motor dengan jarak jauh baru pertama kali ini kami lakukan lagi, dan ternyata seru! Berasa kembali muda. πŸ˜†πŸ˜

GPS aktif selama perjalanan, dan rute yang kami lewati adalah Depok – Citayam – Bogor – Ciampea – Gunung Bunder – Taman Nasional Halimun Gunung Salak. Oya, hari itu hari Rabu alias hari kerja. Alhamdulillah jalanan relatif lancar, dan kami sampai di Taman Nasional Halimun sekitar jam 8. Dengan kecepatan berkendara cederung santai, Depok – Gunung Salak bisa ditempuh hanya dengan dua jam perjalanan. Ngelihat pepohonan besar bersusun rapi di depan mata, saya rasanya pingin loncat kegirangan dan bilang “wohoooo!”. Sayangnya, saat itu kendaraan nggak bisa masuk karena jalannya lagi dicor. And I was like... whuaaaatt???? Udah jauh-jauh nahan pegel ternyata ga bisa lewat??

Pak Jenggot asked me, “terus gimanaa? Masa pulang lagi, udah jauh gini?”

Yaaa, sebenernya saya juga nggak mau pulang lagi. Masa pulang lagi, udah jauh gitu πŸ˜‚. Cuma saya tetiba nggak enak hati kalau ingat omongan Pak Jenggot, “destinasi wisatalo rata-rata nyusahin deh, Bund...” o’ooow. 😡😢

“Ya tapi nggak bisa lewat gitu kan....” jawab saya. Padahal dalam hati saya ngarep doi ngerayu ngajakin tetep masuk walau harus jalan kaki.😌

Akhirnya, kami pun beneran jalan kaki, motor dititip di pos depan, karena kata Si Bapak yang jaga, jaraknya cuma 2 km aja. Aaaaah jarak segitu mah dekat, pikir saya. Tapi, saya lupa... ini gunung, jadi jalannya itu menanjak, dan... bukan cuma 2 km guys! It’s almost 4 km, damn!!! Wkwkwk. Mau lanjut rasa udah nggak karuan,  mau balik lagi... ya kaaali sia-sia usaha nanjaknya.  πŸ˜‚


Sepanjang jalan, saya tengok itu maps buat ngecek udah jalan berapa kilo. Tapi, kalau nanjak mah sekilo juga jauuuuh ya nggak nyampe-nyampe. Hiks. Itu gimana coba para pendaki gunung? Meni hebat euy mentalnya! Lima jempol buat kalian wahai pendaki gunung sejati! (yang satu minjem jempol Pak Jenggot gpp yaa?)

Hampir 3 km mendaki, kami kebalap sama pasutri muda, yang katanya berjalan dari bawah tanpa istirahat. Haaah? Lah saya dan Pak jenggot aja udah tiga kali rehat, sempet tiduran juga di bale-bale warung yang masih tutup, makan puding, foto-foto, ke toilet, haha.

Setelah berjuang, sampailah kami keee... parkiran. Yang rupanya masih harus jalan 100 meter lagi buat menuju lokasi sesungguhnya. Dan lagi-lagi... nanjak! Tangga sih, tapi lumayan terjal. Dan kalau hujan mesti hati-hati karena takutnya licin.

Setelah ngos-ngosan yang berkepanjangan, sampailah kami di Ranggon Hills, oyeee! Tapi beneran deh, lelah kami terbayar lunas begitu sampai di puncak Ranggon. Dengan HTM 10 ribu rupiah, kita udah bisa menikmati keindahan alam yang luar biasa, pluuuus.... ini yang penting, spot foto yang ciamik dan instagramable!

Oya, buat kamu yang pingin ke Ranggon Hills sekarang-sekarang ini tapi nggak mau merasakan kepedihan yang kami rasakan, ada baiknya lewat jalan satunya lagi, yakni Jalan Salak Endah. Nah itu bisa langsung sampai ke parkiran Ranggon Hills. Soalnya, pengecoran jalan masih akan berlanjut satu-dua minggu ke depan, katanya.

Ini saya sajikan alasan kenapa kamu mesti datang ke Ranggon Hills:

- HTM murah meriah

- Spot foto ciamik dan tidak dipungut biaya lagi

- Tersedia abang-abang yang ngebantu memastikan keamanan, ngedorong ayunan (lumayan kan kalo jomblo serasa ada partner), bahkan bantuin motret.

- Tersedia warung-warung yang jual minuman dingin/panas, gorengan, mie instan, dan jajanan yang harganya nggak nembak parah. Yaaa, selisih sedikit wajar dan manusiawi lah. Contohnya aqua yang 600ml itu harganya 5 ribu, pocari sweat kalengan harga 6 ribu, gorengan seribuan aja. Masih normal kan?

- Penduduk sekitar ramah dan gemar menolong.

- Ada mushola, yang air wudhunya langsung dari mata air, dan ke toilet ga dikenain biaya lagi. Tersedia juga sandal jepit, sarung, mukena, sajadah.

- Buat yang di sekitar Jakarta, ini deket banget lah ketimbang mesti ke Bandung mah. πŸ˜‹

Jadi, kalau kamu lagi penat, pingin refreshing tapi dana cekak, Ranggon Hills patut buat dipertimbangkan. 😘😘😘

Elita Duatnofa
Dulu, nggak pernah terpikir saya akan melewati tes kesehatan jantung apapun namanya. Sekarang, saya tahu salah satu fase testnya yang disebut dengan Elektro Kardiogram, atau biasa disebut dengan EKG.

Serangan jantung. Itu diagnosa seorang dokter ketika 30 Mei 2016 malam hari lalu saya tiba-tiba merasa nyeri di dada kiri yang semakin lama makin menghebat. Serasa organ dalam di bagian dada kiri diremas kuat dan disetrum. Lalu rasa lemas menyebar ke seluruh tubuh, sebab bergerak dan bernafas sedikit saja terasa sakit begitu hebat. Saat itu saya mengira jadi malam terakhir saya. Malam yang sebelumnya saya lewati dengan berbincang ringan sambil bercanda dengan Qai dan Zytta. Ketika terjadi serangan, saya pun sedang tertawa. Syukurlah Allah masih memberi saya waktu hidup untuk memperbaiki diri.

Sejak serangan malam itu, sehari-hari saya jadi berdebar terus menerus dan cenderung panik. Merasa sesak dan sering terbangun malam hari saat tidur karna merasa kehabisan nafas. Saya juga jadi merasa lebih mudah lelah. Semakin kemari, dada berdebar lebih kencang lagi, sampai saya ketakutan sendiri karna merasa nggak nyaman dengan degup jantung yang terlalu keras.

Akhirnya, saya memutuskan menemui internis untuk konsul dan cek rekam jantung. Sewaktu alat dipasang, agak serem juga lihatnya. Saya belum pernah mengalami yang kayak begini. Elektroda2 itu ditempelkan di badan saya. Langsung yang terbayang adalah setrum yang berbahaya. Tapi ternyata, cek EKG sama sekali nggak menyakitkan. Tiba2 aja cek sudah selesai.

Setelah itu dokter menjelaskan grafik hasil rekam jantung dengan EKG tadi. Namanya Dr. Mutmainah. Ia menjelaskan dengan sabar dan kalimat sederhana perihal apa yang saya alami. Jadi, katanya, iya jantung saya bermasalah. Detaknya tidak beraturan, dan cenderung lemah. Kemudian ia menyarankan saya untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan dokter spesialis jantung di rumah sakit yang memiliki alat lengkap.

Setelah itu, saya pulang. Oya, saya dapat obat pengencer darah yang perlu saya konsumsi 1x sehari dan juga obat pereda nyeri yang hanya boleh saya minum jika tiba2 datang serangan lagi.

Terkait pemeriksaan lanjutan yang harus saya lewati, sepertinya saya mau buat BPJS dulu supaya tidak kesulitan mengenai biaya nantinya.

Ups, berita baiknya adalah: berat badan saya turun lagi jadi 58kg, setelah sebelumnya setia di angka 63kg. Alhamdulillah.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Agak lama juga ya jeda dari tulisan part 2 dengan part 3 ini. :)

Ya, sekadar mengingatkan kembali, anjuran suami adalah perbanyak sholat malam seraya berdoa dengan dua pilihan: memohon ampunan untuk mereka yang menyebarkan cerita buruk, atau memohon mereka dibalas dengan kejadian serupa yang menimpa saya.

Entah salah atau tidak, saya tidak memilih keduanya. Atau mungkin memilih di antara keduanya, yaitu semoga Allah menyadarkan mereka. Bagi saya, memohon ampunan tuk mereka saja tidak akan mengubah apapun, sebab mereka bisa melakukan hal serupa pada yang lain, yang lain lagi, dan yang lainnya lagi. Atau memohon balasan tuk mereka tentu sama tak berartinya, jika mereka tak menyadarinya lalu melakukannya lagi pada orang lain lagi, orang lain lagi, lagi, dan lagi. Jadi, memohon Allah menyadarkan mereka dengan cara yang Allah mau dan kehendaki, sepertinya cukup oke untuk jadi bagian dari doa malam saya.

Kadang setelah itu saya bertanya-tanya pada diri sendiri. Apakah saya jahat berdoa begitu? Bagaimana jika Allah kemudian menempatkan salah satu dari mereka di kondisi yang jauh lebih buruk nan menyedihkan dibanding saya? Bagaimana jika mereka tak kuat? Bagaimana jika mereka menyerah? Lemah?

Sejujurnya, saya sudah tak tahu lagi apa itu definisi jahat. Sebab saya banyak melihat orang jahat yang mengaku baik, dan orang yang terlihat baik namun jahat. Jadi, bukankah jahat adalah sesuatu yang biasa, setidaknya untuk mereka? Lagipula, setidaknya saya sudah mendoakan satu kebaikan untuk mereka: s-a-d-a-r. Di luar itu biar jadi urusannya dengan Allah.

Apapun masalahnya, selalu ada hikmah. Jadi saya pun tak mau berlarut dalam kepedihan mendalam. Saya memilih untuk sibuk menemukan hikmah di balik musibah ini, hmm atau yang mereka sebut dengan azab mungkin. Terserah, apapun kata mereka, nyatanya Allah menyiapkan banyak sekali hikmah untuk saya dan keluarga.

Salah satu hikmahnya adalah, saya jadi belajar tuk ikhlas ditempatkan dimana pun yang Allah inginkan. Di tempat yang menjijikkan, atau di singasana penuh kuasa. Di tengah kehinaan, atau kehormatan. Sebab saya tak bisa menolak jika Allah sudah tetapkan demikian.

Ikhlas, ikhlas, dan belajar. Tak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. Apakah saya masih dihinakan, ataukah ALLAH sudah angkat saya ke tempat yang baik dan menempatkan salah seorang penghina saya di dalam kehinaan yang pernah saya alami. Wallahu a'lam.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Di masa sulit, sensitifitas perasaan seseorang naik jadi dua kali lipat. Apalagi ketika mendengar cerita yang tak enak di telinga, gambaran secara fisik tak perlulah saya jelaskan agar tak dikata menjual kisah lagi. Gambaran sederhananya adalah, saya shock, tapi tidak tahu mau berkata apa, tidak tahu mau menghubungi siapa, bahkan saya juga ingin menangis tapi air mata tak bisa keluar. Reaksi yang keluar justru saya tertawa. Menertawakan posisi saya sendiri, yang ternyata tidak bisa berbuat apa-apa... jika Allah sudah mengaturnya demikian. Saya seperti sedang diajarkan sesuatu, tapi belum tahu tentang apa itu.

Saya berusaha menenangkan diri, bertanya sendiri... apa iya saya ini penipu? Yang sengaja berkelana mencari mangsa, atau yang mereka sebut sebagai korban. Apa iya saya penipu? Sementara mereka tahu di mana saya tinggal. Apa iya saya penipu? Hanya karena saya pernah meminjam uang dan sudah dibayar? Apa saya layak disebut penipu? Jika salah satu teman (atau hanya kenalan?) kemudian mengikhlaskan separuh pinjamannya? Apa saya penipu jika saya bangkrut?

Lalu setelah menenangkan diri, saya merenung kembali. Jika saya memang berencana menipu, kenapa saya harus repot-repot membuka usaha dulu, membeli perabotan cafe, cari karyawan, dan mengorbankan uang pribadi saya juga yang besarnya sama dengan uang rekanan saya? Kenapa tidak langsung saya habiskan uang itu sendirian kemudian saya bawa berlibur ke luar pulau? Kenapa tidak saya berikan perabot yang belum saya miliki? Kenapa tidak saya belikan laptop untuk menggantikan laptop saya yang rusak? Kenapa?

Atau kenapa juga saya harus capek-capek mengurus pembuatan buku tutorial hijab? Yang modelnya saya yang carikan, propertinya, gaya hijabnya, catering, bahkan saya juga yang harus mengantarkan 2300 eksemplar buku dari Depok ke Sumedang dalam keadaan macet parah sebab suasana liburan. Sebelumnya saya juga yang menjemput 3000 eksemplar buku dari percetakan dan membawanya ke rumah tinggal saya hingga rumah saya itu menjelma jadi gudang sementara, tanpa uang sewa. Tidak ada yang bertanya pada saya sewaktu saya harus menunggu dari pagi sampai sore menjelang malam di percetakan sebab ternyata pembayaran belum lunas dan saya harus menunggu sampai seorang kawan mentransfer sisa pembayarannya. Tidak ada juga yang bertanya pada saya apakah saya punya bekal untuk makan, bensin, tol, dan penginapan sewaktu saya membawa 2300 eksemplar buku itu ke Sumedang. Bahkan saya belum pernah dibayar secara resmi sepeserpun untuk apa yang telah saya kerjakan.

Tidak ada juga yang tahu, bahwa setiap kali saya bolak-balik Gramedia Pusat saya harus mengorbankan jadwal mengajar saya hari itu, yang berarti saya kehilangan penghasilan untuk sehari. Padahal, penghasilan tetap saya ya dari mengajar. Lucu, sebab bahkan saya awalnya tidak terlibat dalam rencana pendirian penerbitan tersebut, hanya tiba-tiba ditarik untuk terlibat dan diberi amanah besar. Amanah itu tidak pernah saya minta dan harapkan SATU KALI PUN. Mengingat itu sebetulnya saya sangat menyesal kenapa harus terlibat.

Lalu, malam hari ketika suami pulang dari bekerja, ia menasihati saya....

"Kalau Bunda merasa tersakiti dengan cerita yang sudah tersebar itu, tahajjud aja. Bunda punya dua pilihan doa, insya Allah maqbul. Berdoa agar Allah mengampuni mereka, atau berdoa agar Allah membalas mereka. Karena kita tahu kan kalau kita tentu nggak bisa membalas dan nggak boleh membalas?"

Kalimatnya seperti air gunung yang sejuk di hati dan pikiran saya, dan saya setuju dengannya.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Sekali lagi akhirnya saya menulis tentang hidup dan bangkit. Saya ingat saya sering menuliskan hal semacam ini sekitar 5-6 tahun lalu. Bukan untuk menggurui siapapun, tapi untuk menyemangati diri saya sendiri, berbicara dengan diri sendiri. Sebab saya sendiri yang lebih tahu tentang perjalanan hidup saya, karakter, keinginan, ataupun pemikiran yang sering bersemayam di benak. Jadi, berbicara dengan diri sendiri... termasuk lewat tulisan, adalah salah satu upaya untuk mendapatkan kembali spirit yang mungkin mulai layu dan keyakinan yang mulai surut, entah disebabkan oleh kelelahan fisik dan pikiran, maupun nada sumbang yang rajin berdendang di luar sana tanpa mau tahu apa yang sesungguhnya tengah terjadi.

Masa-masa sulit, kadang memang menjadi semakin sulit di kala kita tahu bahwa orang yang selama ini mengaku teman rupanya berbalik arah lalu menikam. Dan semakin jadi sulit lagi sebab ia bukan hanya menikam, tapi juga melebih-lebihkan cerita. Rasanya bahkan lebih perih dari sekadar luka yang diberi garam.

Namun masa sulit, juga lagi-lagi membuka mata kita, bahwa masih ada segelintir orang yang setia, menjaga prasangka, bahkan menasihati dan menguatkan. Mereka tak ikut-ikutan menghakimi apa lagi menyebarkan cerita yang bahkan sudah lama sekali selesai.

Dari masa sulitlah Allah menuntun, siapa yang harus kita pertahankan, dan siapa yang harus kita lepaskan.

Ketika mengetahui bahwa saya jadi bulan-bulanan di luar sana sebab kebangkrutan saya yang meninggalkan hutang lebih besar, awalnya saya shock. Apalagi begitu tahu bahwa orang-orang yang pernah membantu saya (dan urusan kami sudah lama selesai) kemudian mengangkatnya menjadi cerita yang lezat disantap oleh orang-orang yang kehausan berita duka. Namun saya akan coba memaklumi sikap mereka, mungkin karena mereka tidak tahu, atau karena mereka memang terbiasa seperti itu. Seolah mereka anti dengan kesusahan, anti dengan teman yang susah, anti memaklumi. Atau juga terbiasa mengolah sesuatu yang biasa menjadi gurih, suka membumbui, supaya sajian berita jadi lebih mantap. Lalu menyantapnya bersama-sama, sambil masing-masing membawa bumbu tambahan sendiri.

Hidup nampaknya harus lurus saja buat orang seperti itu. Miring sedikit dianggap laknat, apalagi jika miringnya banyak. Sulit memaknai bahwa kadang jalan berkelok memberi kesan dan pelajaran tersendiri. Padahal jika menghakimi tak jadi hobi, mereka bisa berkaca pada kisah-kisah orang sukses yang juga diawali dengan kesulitan, kegagalan, dan... cemoohan. Toh buktinya waktu mempermalukan para pencemooh, dengan melesatnya si orang sukses yang dulunya miskin dan pernah jatuh. Namun harus saya sadari, bahwa saya tak bisa memaksa semua orang tuk mengerti, jadi biar saya saja yang berkaca dan memaknai semua sebagai pelajaran dan kesempatan berproses.

Tak ada orang yang ingin gagal, namun apakah lantas kita berhak memicingkan mata pada orang yang gagal? Jawab saja sendiri dalam hati masing-masing. Tak ada orang yang ingin susah sampai harus mencari pinjaman uang. Namun apakah lantas kita boleh menghina dan menceritakan ke semua orang bahwa si Fulan pernah meminjam uang pada kita sejumlah sekian (walau sudah dibayar lunas), atau mungkin menceritakan bahwa si Fulanah pernah terlambat mengembalikan uang. Jawab saja di nurani sendiri-sendiri, jika memang masih ada.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Hidup ternyata memang sekumpulan pelajaran, yang tidak pernah berhenti. Apapun yang orang katakan, entah ujian atau pun teguran, toh tetap di dalamnya ada pelajaran. Maka saya lebih senang menganggap hidup sebagai perjalanan panjang penuh pelajaran.

Dari kebahagiaan, kita jadi tahu artinya syukur. Dari duka dan kesusahan kita tahu bahwa hidup adalah perputaran nasib. Mungkin orang lain punya penafsiran berbeda, namun setidaknya begitulah opini saya. Saat senang teman beriring datang, saat susah mereka beriring pergi. Lalu nama saya menjadi topik hangat yang lezat tuk diperbincangkan. Saya tahu, namun pura-pura tak tahu.

Banyak dari kita yang mungkin pernah berada di posisi tersebut. Banyak juga yang tidak, oleh sebab itulah mereka tak bisa mengerti karena tahu rasanya juga tidak.

Beberapa kali mencoba menghibur dan menguatkan diri dengan membaca kisah2 orang sukses yang dulunya pernah gagal dan terasingkan. Salah satunya adalah kisah Ust. Yusuf Mansyur. Beliau pernah terlilit hutang milyaran rupiah hingga masuk bui berkali-kali. Apakah ada yang mau terseret dalam kisah seperti itu? Saya sendiri tidak. Membayangkannya saja sudah takut. Namun Allah punya maksud lain, permasalahan hidup yang pelik mendekatkan Ust. YM pada Allah. Selepas itu, Allah sudah siapkan gantinya, rezeki melimpah, nama baik, dan kedudukan. Padahal jika mendengarkan ceramahnya, sedih betul, karna tukang bakso pun ogah dipanggil oleh beliau, takut tak dibayar.

Saya tahu saya salah, tapi saya tidak pernah sengaja menjadi bangkrut dan menyusahkan. Sebab bangkrut itu bukan cuma menyusahkan orang lain, melainkan juga diri sendiri.

Saya terasing kini, di antara nama yang siap untuk runtuh dan terinjak. Namun saya tak pernah berniat untuk menjadi seperti yang dituduhkan orang dalam hatinya tentang saya. Biar Allah yang mengklarifikasi semuanya lewat waktu. Sebab waktu juga membuktikan bahwa saya masih memiliki itikad baik.

Dari sini pula saya diberi kesempatan untuk belajar, lagi dan lagi. Untuk lebih bijak memahami hidup, lebih menyaring siapa yang bisa dipercaya, dan berhenti men-judge orang. Sebab saya tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan seseorang, tidak pernah.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Malam tadi tepatnya ba'da Isya, saya cek email dan mendapati ada sebuah pesan dari Gojek Indonesia yang masuk sejak sore. Isinya, informasi bahwa saya mendapatkan voucher senilai seratus ribu rupiah, yang saldonya akan masuk secara otomatis pada saldo Go-Pay saya setelah memasuki kodenya.



Kebetulan, saya yang baru pulang mengajar agak malas memasak ataupun keluar rumah lagi tuk membeli makanan, padahal sang suami juga kelaparan akibat beristrikan wanita malas seperti saya. (Please forgive me, darl.)

Ahaaa! Akhirnya saya dapat ide buat coba-coba gunakan saldo Go-Pay yang barusan terisi. Ya seratus ribu cukuplah ya buat mengisi perut semalam. Mulailah saya berselancar ke resto-resto yang ada di layanan Go-Food. Bolak balik berunding dan memilih, akhirnya pilihan jatuh pada martabak San Fransisco isi Toblerone Keju. Saya tekan tombol order. Yes! Betul-betul 100% cashless seperti yang diinfokan. Oya, martabak yang saya pesan habis, jadi diganti dengan martabak nutella keju, lebih murah seribu rupiah dengan pilihan sebelumnya. Tapi drivernya jujur sehingga selisih harga masuk kembali ke saldo Go-Pay saya.



Berhubung saldo masih ada 30 ribu, dan saya malas membuatkan minum untuk suami, akhirnya saya berselancar lagi memilih menu minuman, hitung-hitung ngabisin saldo, hehehe. Pilihan jatuh pada Milk Jelly Drink Delima. Saya memesan rasa coklat 2 dan mangga 1. Total 24 ribu ditambah ongkos antar 5 ribu, jadi 29 ribu semuanya.



Baiklah, urusan makan dan minum malam ini beres sudah berkat Allah via Gojek Indonesia. Sebetulnya masih pingin order lagi, tapi sayang saldo tinggal seribu perak. Hahaha.

Terimakasih Gojek, akhirnya kami pun tidur dengan kekenyangan. Hihihi.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Beberapa tahun belakangan, muncul pembahasan lain tentang Kartini. Sejarah membuktikan bahwa Kartini bukanlah satu-satunya tokoh emansipasi wanita di Indonesia. Ada wanita hebat lainnya yang juga memperjuangkan hak wanita, jauh sebelum Kartini memulainya. Namun, Kartinilah yang kemudian menjadi simbol emansipasi kaumnya. Padahal, bahkan beberapa pejuang lain turut andil di medan perang melawan penjajah, sementara Kartini tidak. Pun yang lainnya sudah memulai mengajarkan perempuan untuk membaca dan dan berketerampilan lebih dulu di saat Kartini belum berbuat sesuatu.

Beberapa pihak menuliskan tentang hal ini tanpa ada maksud, kecuali menjelaskan bahwa kita bukan cuma memiliki Kartini, tapi ada banyak "Kartini" lainnya. Namun ada juga yang menyayangkan, mengapa harus Kartini yang menjadi simbol? Sementara yang lebih dahulu berjuang ada banyak.

Saya tidak ingin membahas kembali mengapa Kartini yang diekspos, bukan Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, dan banyak lagi yang lain. Terlalu banyak sudah yang mengulasnya dari berbagai sisi. Kali ini saya akan mencoba melihatnya dari sisi yang berbeda.

Kartini atau siapapun, selalu ada hikmahnya. Pelajaran yang bisa kita petik dari hal ini adalah, betapa terkadang kita tak perlu menjadi seseorang yang dianggap besar untuk menjadi berharga dan bermanfaat. Sebagaimana permata tak harus menjadi sebesar karang tuk jadi bernilai. Kita tak perlu dikenang sebagai wonder woman ataupun superman, sebab kebaikan dan manfaat bukan untuk bermuara pada tropi, nama besar, apalagi pujian dan predikat "hebat".

Seringkali kita lupa, dengan banyak dalih dan pendapat yang bermotif kepentingan pribadi, kita ingin menjadi terkenal. Padahal menjadi terkenal atau dikenal hanyalah hiasan pemanis, seperti buah cherry pada black forest, yang utama adalah cakenya, bukan cherrynya.

Maka dari "Para Kartini" lainnya kita perlu belajar, bahwa menjadi bermanfaat adalah tugas, bukan pilihan. Sekalipun tak ada yang ingat pada manfaat yang kita tebar, dan tak ada yang sudi mengenang nama kita.

Maka bermanfaatlah, seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, atau bahkan seperti "Para Kartini" yang namanya tak pernah sampai ke telinga kita. Namun kebaikannya pernah mengubah dunia, walau sedikit... walau hanya sedikit.


posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Jika ditanya kekayaan apakah yang paling berharga yang kita punya, mungkin ada yang menjawab mobil pribadi, rumah mewah, emas batangan, atau harta berharga lainnya. Lalu berapa di antara kita yang menjawab "buku" sebagai salah satu aset kekayaannya? Prosentase tersebut sudah cukup menjadi jawaban kenapa bangsa kita masih saja tertinggal setelah puluhan tahun "cuma" jadi negara berkembang, yang artinya maju nggak, walaupun miskin-miskin banget juga nggak.

Kalau saja kita semua tahu bahwa buku adalah sumber kekayaan berharga untuk pembacanya, maka tentu toko buku akan jauh lebih ramai ketimbang mall. Sebab setiap weekend tiba maka anak-anak merengek minta diajak ke toko buku, bukan belanja baju, pun bukan makan di resto mahal untuk kemudian menu pilihannya dipertontonkan pada banyak orang lewat sosmed. Bahkan mungkin di saat teman sosmednya sedang ada yang kelaparan dan tak ada uang.

Semakin hari, umat manusia telah mengalami kemunduran yang kita kira sebagai kemajuan. Atas nama modernitas kita berlomba membeli smartphone, tapi lupa untuk membuat diri menjadi tak kalah smart dengan handphone. Bermegah-megahan, mengumpulkan harta, berharap bisa meninggalkan harta cukup untuk anak kita. Namun lupa bahwa harta sebanyak apapun akan habis tak bermakna di tangan anak yang tak berwawasan baik.

Kita lebih sering bangga pada apa yang kita punya, rumah bagus, perabotan cantik, hewan peliharaan yang mahal, dan lainnya. Kita lupa bahwa yang utama kita isi seharusnya adalah pikiran dan jiwa, lewat buku-buku bermutu yang kita baca.

Lantas, sudah berapa bukukah yang pernah kita baca?



posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Depok Clean Action adalah salah salah satu bagian dari Gerakan Pungut Sampah, yang juga sudah lebih dulu ada di beberapa kota seperti Jakarta Clean Action, Bandung Clean Action, dll.








Kegiatannya, nggak beda dengan namanya, mungut sampah, hehehe. Dan kami semua yang bergabung di sini murni volunteer alias nggak nerima bayaran sepeser pun dari mana pun. Sosial? Yes.

Bulan pertama kami memulai aksi, yaitu di car free day Depok yang berlokasi di GDC. Yaaa... bisa ditebak ya seberapa banyak sampah yang ada di sana. Apalagi, ada pasar kagetnya juga di area itu. Iya, pasar kaget yang jumlah sampahnya bener-bener bikin kaget. Mulai dari pedagang, pengunjung, sampai tukang parkir, dengan santai kayak di pantai... membuang sampah di mana-mana sesuka hati mereka. Mungkin definisi merdeka di pemikiran mereka adalah termasuk merdeka dalam membuang sampah di mana aja. Tanah air sendiri, suka-suka gue dong, mau gw kotorin kek, mau gw rusak kek, kan negara gue ini, bukan negara jajahan lagi. Lagian urusan bersih-bersih itu urusan dinas kebersihan. Begitukah kira-kira? Ups abaikan, jangan terlalu suudzon. Xixixi.

Saya pribadi nggak tahu betul asal usulnya gimana bisa ada GPS atau Clean Action. Saya cuma tahu bahwa pelopornya itu (Bang Gawtama) memulai aksinya pertama kali saat pilkada DKI. Yaa as we know lah, di mana ada keramaian di situ ada sampah. Sejak itulah muncul gerakan-gerakan percabangannya di kota lain. Motifnya? Yang pasti mulia insya Allah.

Saya sendiri ikut-ikutan meramaikan clean action di depok dan menjadi koordinatornya ya karena... karena mau nunggu siapa lagi? Mau nunggu kapan lagi? Selain itu saya ingin memberikan keteladanan pada anak-anak saya sendiri dengan kegiatan ini. Berharap dengan terlibat dalam aksi sosial seperti ini mereka memahami, bahwa perubahan sekecil apapun bisa berarti. Dan untuk menuju perubahan kita tak perlu menunggu si anu atau si anu. Bergeraklah dari diri sendiri. Tak perlu berharap imbalan, karena di kanan kiri kita sudah ada malaikat pencatat yang akan menyerahkan urusan imbalannya pada Sang Maha. Tak juga mengharap apresiasi, sebab apresiasi itu semu, dan imbalan hanya bertahan sebentar.

Tak mudah mengubah masyarakat kita yang terlanjur masa bodo dengan sampah menjadi peduli, tak gampang mengajak orang lain ikut terlibat memungut sampah bersama, bahkan kami pernah dicemberuti karena kami mengingatkan orang untuk membuang sampah pada tempatnya. Walau tak sedikit juga yang merasa tersindir, lalu berlarian mengejar kami untuk ikut memasukkan sampah yang berserakan di dekatnya ke kantong sampah kami. Atau sekelompok remaja yang duduk-duduk lalu mengatakan "iya" saat saya meminta mereka menyimpan sampahnya jika tak menemui tong sampah. Melihat yang demikian saja kami senang.

So, DepokCleanAction adalah ladang lain yang sedang kami bangun bersama untuk menuju hasil mulia di akhirat sana. Serta bisa diteruskan oleh anak cucu kami, sehingga Indonesia yang berbudaya bersih bukan cuma mimpi di siang bolong.



posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Berita pagi tadi rasanya begitu mengejutkan. Sekali lagi Allah membuktikan bahwa usia tak pernah bisa diterka, malaikat maut bertamu dalam kehidupan kita setiap 21 menit setiap harinya, entah pada kunjungan yang mana ia ditugasi mencabut nyawa kita.



Bu Aminah Sahal, beliau tidak melahirkanku, tapi dalam asuhannya lah masa remajaku berada. Kami tak saling kenal secara khusus kala itu, sebab ada ribuan santriwati lain yang butuh diperhatikan. Bahkan kami tak pernah mengobrol sebagaimana ibu dan anak, atau berkata "halo" pun tidak. Tapi aku tahu bahwa aku dalam asuhannya, dengan bantuan para ustadzah sebagai perpanjangan tangan.

Aku tidak tahu banyak tentang beliau, aku hanya tahu bahwa beliau adalah ibuku juga. Hingga setelah bertahun-tahun lamanya meninggalkan ma'had, aku masih sering merindukannya, rindu pula segala hal yang dulunya sering kuhindari. Beberapa pertanyaan hinggap, apa yang bisa kuberikan untuk membalas?

Beliau tidak melahirkanku, tapi beliau ibuku. Ketika akhirnya kami berjumpa kembali Oktober 2015 lalu, ia menatapku dan aku menatapnya, kutangkap sirat kasih dari matanya, sebagaimana seorang ibu yang haru karna bertemu kembali dengan anaknya yang lama tak pulang ke rumah.

Pondok itu akhirnya serasa rumah, pada pondok itu kami merasa pulang, pada asuhannya kami merasa rindu. Segala bekal dan nasihat yang tak kusangka sungguh berguna di perjalanan usiaku. Beliau ibu, yang memengaruhi proses berpikir dan bersikap dalam hidup yang tak selalu mulus.

Dan aku menangis, entah kenapa aku menangis. Haruskah aku bersedih, sementara beliau menutup usia dengan jalan yang sungguh mulia? Namun salahkan aku bersedih, sebab ku bahkan belum banyak membalas jasanya?

Beliau tak melahirkanku, tapi beliau ibuku. Selamat jalan, Ibunda sayang. Tak dapat kutulis lagi doa yang terlantun bersama nafasku. Kuyakin Allah telah menyediakan tempat terindah untukmu.

Sampai berjumpa lagi di jannah-Nya, Ibundaku sayang. Kan kuingat nasihat-nasihatmu, dan semoga dapat kuteladani pengabdianmu.

Sampai jumpa lagi, Ibunda sayang. Semoga akhirnya kami para anakmu mendapat husnul khotimah pula. Mengabdi pada Allah, bermanfaat untuk ummat, sebagaimana yang sering engkau gaungkan tanpa bosan.
Amiin.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Adalah seorang bunda super, mengurus 3 buah hatinya yang yatim sejak 2 tahun lalu, dengan sabar, ikhlas, tegar. Saya tak bisa membayangkan berada di posisi itu, dan saya belum tentu setegar itu.

Dialah Kak Iis, sahabat baik saya yang lama tak saya sambangi sebab kesibukan duniawi. Ia seringkali menempatkan dirinya sebagai kakak buat saya yang kebetulan tak berkakak. Pintu rumahnya selalu terbuka untuk saya kapan pun jika saya ingin datang berkeluh kesah. Saya bahkan belum sempat membalas kebaikannya yang begitu banyak. Saya merasa bagai kacang lupa kulit.

Terakhir kami bertemu, mungkin 2 tahun lalu. Hujan2an ia datang ke rumah saya untuk memesan coklat lebaran, sebagai bukti bahwa ia begitu mendukung apapun yang saya lakukan. Bersama seorang teman ia datang, dengan sepeda motor. Membayangkannya saja saya malas, berhujan2an dari Pamulang menuju Depok dengan motor, tapi ia lakukan, bukti lain bahwa ia memang sedemikian baiknya.

Selamat jalan, Kak Iis. Sungguh kami menyayangimu dengan sangat. Tapi Allah tentu lebih menyayangimu dan menyiapkan tempat terbaik untuk segala kebaikanmu.

Semoga namamu adalah doa, bahwa engkau adalah salah satu cahaya yang menyinari surgaNya.

Kami menyayangimu dengan sangat, Kak Iis. Maafkan segala alasan yang kubuat hingga menghalangi silaturahmi kita.

Kepergianmu adalah pelajaran untukku, bahwa harusnya kesibukan tak menghalangi silaturahim.

Kepergianmu adalah peringatan untukku, agar lebih menghargai waktu dan memanfaatkannya sebaik mungkin.

Sungguh kami menyayangimu dengan sangat, semoga Allah menempatkanmu di tempat yang tinggi, bersama para kekasihNya.

Ya Rabb, ampunilah kesalahannya, lapangkan kuburnya, ampuni, ampuni, ampuni Ya Rabb. Amiiin.

posted from Bloggeroid

Elita Duatnofa
Saya juga nggak ngerti salahnya di mana, sampai akhirnya banyak orang... oke saya perjelas... sampai akhirnya kebanyakan orang indonesia... nggak suka sama yang namanya mem-ba-ca.

Agak miris karena kita tahu bahwa buku itu jendela ilmu. Terus kalau nggak dibaca, bukunya diapain? Jendelanya diapain?

Miris juga kalau ada orang hobi baca lantas dianggap kutu buku yang notabene juga dianggap cupu. Padahal cupu itu yang kalau diajak ngomong susah nyambung karena pengetahuannya terbatas. Terbatas karena nggak suka baca. Nah, kan.

Memang betul, pengetahuan dan informasi bisa kita dapat dari mana saja selain buku. Ada tv yang tinggal ditonton saja kita udah dapat informasi padat. Ada youtube yang semuanya juga udah ada. Jadi, ngapain harus baca? Gitu kira2 jawaban ngeles dari mereka yang nggak suka baca.

Sedihnya, perilaku nggak suka membaca seringkali diturunkan.oleh orang tua yang juga nggak suka membaca. Jadi seperti kutukan yang turun menurun.

Lantas, kalau kita nggak suka baca, apa saat kita punya anak... kita berharap anak kita nggak suka baca juga? Jawab aja dalam hati masing2. Hehehe. Setahu saya, biarpun orang tuanya nggak suka membaca, begitu punya anak pasti berharap anaknya senang membaca. Harapan yang terlalu muluk, sebab bagaimana anak akan hobi membaca jika jarang melihat orang tuanya membaca.

Saya akan menyajikan 5 manfaat membaca buku yang saya lansir dari detik.com, yaitu:

1. Melatih otak
Saat membaca, otak dituntut untuk berpikir lebih sehingga dapat membuat orang semakin cerdas. Tapi untuk latihan otak ini, membaca buku harus dilakukan secara rutin.

2. Meringankan stres

3. Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer
Ketika membaca, otak akan dirangsang dan stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak termasuk penyakit Alzheimer.

4. Mengembangkan pola tidur yang sehat
Membaca buku sebelum tidur akan membantu Anda mendapatkan tidur nyenyak dan bangun segar di pagi hari.

5. Meningkatkan konsentrasi
Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.



Dan ini 20 kelebihan orang yang suka membaca:

1. Dia Bisa Menemukan Kenyamanan Dalam Hal Sederhana

2. Pengetahuannya Pasti Luas

3. Kamu Tidak Perlu Takut Kehabisan Bahan Pembicaraan

4. Orang Yang Suka Membaca Biasanya Lebih Peka

5. Bacaan Memberinya Pandangan Tentang Hidup Yang Tidak Sekedar Hitam-Putih

6. Dari Membaca, Dia Sudah Tahu Banyak Tentang Berbagai Dinamika Hidup

7. Orang Yang Gemar Membaca Akan Lebih Bijaksana

8. Pasangan Inspiratif

9. Membaca Akan Membuatnya Lebih Mudah Mengekspresikan Diri

10. Punya Banyak Kalimat Manis, Tapi Jauh Dari Kesan Gombal

11. Pengetahuannya Bisa Membantumu Menyelesaikan Masalah

12. Menjalani Segala Sesuatu Lewat Proses Adalah Hal Yang Sangat Dipahaminya

13. Dia Tahu Bahwa Akhir Tidak Selalu Bahagia

14. Loyalitasnya Tidak Lagi Diragukan

15. Dia Punya Jiwa Romantis Dan Jiwa Petualang Dalam Satu Badan

16. Bersamanya, Kamu Akan Selalu Haus Pengetahuan Baru

17. Ingin Dapat Partner Diskusi Yang Sepadan? Kutu Buku-Lah Jawabannya

18. Dia Tidak Akan Tergantung Padamu Hanya Karena Takut Kesepian

19. Kalian Bisa Menikmati Keheningan Berdua

20. Dia Setia Dan Memandangmu Lebih Dari Sekedar Penampilan Semata

(Sumber: http://deebacalah.blogspot.co.id/2014/08/20-kelebihan-dari-orang-yang-gemar.html?m=1)

Nah, udah tau kan sekarang perbedaan mereka yang suka membaca dan yang tidak? Kamu pilih jadi yang mana?


posted from Bloggeroid
Elita Duatnofa
And the day is coming. Berangkat juga saya ke Jatim, untuk yang pertama kalinya setelah 17 tahun berlalu. Selama 2 minggu saya menyiapkan semuanya sambil deg-degan. Ya nyiapin materi untuk workshop nanti, ya nyiapin baju, tiket, termasuk mental. Ciusan, saya begitu emosional dalam menyambut keberangkatan ini. Sampai-sampai murid banyak yang saya liburkan supaya bisa fokus nyiapin semuanya dengan baik, terutama materi. Saya emang agak aneh, tiap mau workshop harus bikin materi baru, power point baru, sebab kalau pakai yang sudah ada, saya sendiri kurang greget karena jenuh. Jadi beda workshop harus beda materi gitu. Halah sok idealis yaa hahaha.

Abaikan sudah tentang itu. Sekarang mari ngobrol tentang berangkat ke Jatim, tepatnya Ponorogo. Kamis siang, tanggal 29 Oktober 2015 ba'da zuhur, saya dan dayanti berangkat menuju stasiun pasar senen, dengan melewat berbagaaai hambatan. Hambatan? Ho'oh hambatan. Mulai dari telat berangkat karena nungguin kurirnya penerbit yang nggak kunjung datang, jadi aja kami berangkat jam 1 siang, padahal di agenda kami harus sudah berangkat jam 12 teng setelah sholat zuhur. Sudah jam 1 begitu, naik taksi adalah pilihan terbodoh, karena jalanan di Jakarta itu unpredictable, jadilah kami naik KRL menuju Pasar Senen. Hambatan lain datang saat ternyata kereta jurusan Jatinegara-Pasar Senen nggak nongol-nongol. Hingga kami naik kereta jurusan Kota dan turun di Manggarai untuk transit. Pas di Manggarai, kereta jurusan jatinegara nggak ada juga. Pak petugas mengarahkan kami untuk kembali naik kereta jurusan Kota dan turun di Gondangdia. Begitu kami naik, keretanya nggak jalan juga, harus nunggu lama karena menunggu kereta lain lewat duluan. Oh my god! Akhirnya kami putuskan turun dari kereta dan berjalan keluar stasiun Manggarai untuk naik bajai saja. Asal tahu aja, bawaan kami sebanyak alaihim gambreng. Apalagi bawaan Dayanti, karena dia juga bawa anak.

Singkatnya, kami pun naik bajai. Entah harus bersyukur atau menyesal, kami dapat supir bajai yang gila banget. Lampu merah diterabas, menantang maut pula dengan melawan arah. Dengan bangga supir bajai bilang, "bersyukurlah Mbak dapat supir bajainya saya, kalau nggak, Mbak bakal ketinggalan kereta." Akhirnya saya berusaha mengimani kata-kata pak supir, dan belajar percaya bahwa pertemuan kami dengannya adalah anugerah terindah.

Nggak berhenti sampai di situ, Dayanti masih sempat jatuh ngejogrok di stasiun, begitu melihat seorang teman kami yang juga akan berangkat ke Ponorogo dengan kereta berbeda, namanya Nur. Saya juga heran kenapa sampai jatuh begitu. Sementara Nur yang jadi penyebab Dayanti jatuh, cuma stay cool aja. Dan itu nyata terjadi, xixixi.

Esok harinya, jumat 30 oktober 2015 jam 2 dini hari, kami tiba di stasiun madiun. Aaaaah akhirnyaaa kakiku menginjakkan kaki di tanah Madiun lagiii. Di stasiun, teman kami Kristin yang berangkat dari Indramayu sudah menunggu kami selama 2,5 jam.

Jam 5 subuh, teman kami yang lain yaitu Ansar dan Nur sampai juga. Pas banget dengan jemputan khusus dari pondok yang juga baru tiba. Kami pun segera naik ke mobil. Tapi Kristin galau, dia berubah pikiran dari yang semula berencana pulang hari Sabtu, jadi kepingin pulang hari Minggu. Ya iyalah, pasti betah ketemu kita-kita. Jadilah kerempongan dimulai, bolak-balik ragu mau reschedule tiket atau nggak. Dan akhirnya, Kristin batal reschedule tiketnya. Saya sih udah feeling dia bakal nyesel karena nggak reschedule. Ketemu temen-temen lamanya yang kece badai begini, mana mungkin bisa cukup sebentar.



Mobil pun berjalan meninggalkan Madiun, menuju Ponorogo. Nggak banyak yang berubah, saya masih mengecap rasa yang sama begitu melihat ke kanan dan kiri. Kalaupun berubah, hanya tambahan bangunan di sana-sini, tapi suasana dan aroma nggak banyak berubah. Ingatan saya pun langsung melesat ke 21 tahun yang lalu, saat pertama kalinya saya datang dan melewati jalan yang sama, juga 17 tahun lalu saat terakhir kalinya saya melihat tempat itu. Jiwa saya kemudian tersenyum, menikmati semua pemandangan di depan mata, seraya bergumam... betapa segalanya menjadi jauh lebih indah ketika sudah menjadi kenangan.

(Bersambung)


posted from Bloggeroid
Labels: 0 comments | edit post
Elita Duatnofa
Hari ke-3 di Jatim.

Begitu selesai rangkaian acara di PP. Al Mawaddah, saya diculik oleh teman saya Sani dan dua orang temannya, Uus dan Hanik, menuju Trenggalek. Yang dimaksud tentu bukan Kota Trenggaleknya, melainkan Desa Panggul yang berada di daerah pesisir pantai selatan

Sani sempat tanya pada saya, terbiasa travelling nggak, gitu. Saya jawab, tenang aja... kalau jarak tempuh 2-3 jam sih keciiiil. Buktinya Depok-Bandung yang berjarak 3-4 jam sering saya tempuh bersama suami. Sani juga sempat kasih bayangan, bahwa nanti perjalanan yang kami tempuh akan berliku dan turun naik gunung. Saya langsung menyimpulkan, pasti sama saja dengan Puncak Bogor, nggak ada bedanya.

Sejam lebih kami lewati, ternyata jalurnya beda dengan jalur Puncak, hahaha. Ini jalanan lika-likunya ekstrim, plus APV yang kami tumpangi nggak ada AC-nya. Saya pura-pura baik-baik aja karena nahan gengsi. Masak orang Depok mabuk perjalanan, malu dooong. Tapi sepandai-pandai tupai lompat akhirnya jatuh juga. Eh salah ya? Maksudnya sepandai-pandainya saya nyembunyiin mabuk perjalanan, akhirnya ga tahan juga. Kami pun berhenti di salah satu rumah makan di tepi jalan. Saya langsung keluar mencari udara segar. Aaah enaknyaa. Kemudian ambil posisi duduk di kursi dekat jendela yang viewnya langsung ke sungai. Tapi sayang, sungainya kering kerontang. Huhuhu.

Sani memesankan es campur untuk saya dan Dayanti sepupu saya yang juga ikut serta. Saya minum sedikit buat segarkan badan. And then.... saya tertidur pulas di kursi berkat belaian angin yang saya anggap sedang mengusap mata. Ups semoga saya tertidur tanpa ngorok.

Ketika saya bangun, kami melanjutkan perjalanan yang bikin saya deg-degan. Saya deg-degan takut mabuknya makin parah. Tapi syukurlah, sampai kami tiba di Desa Panggul, tepatnya di rumah ibu mertua Sani, saya masih baik-baik aja dan tetap mempesona. #sigh

Rumah mertua Sani merupakan rumah bergaya campuran Jawa dan modern, punya banyak kamar, dan bersiiiiih bingit. Padahal di rumah besar itu nggak ada pembantu, cuma ada Sani, sang ibu mertua, dan anak tunggalnya Sani, tapi bersihnya luar biasa. Saluuut.

Rencananya, sore setelah istirahat sebentar, kami mau langsung ke pantai. Supaya besoknya setelah mengisi workshop di MTsN Panggul, saya bisa langsung cabut ke Malang. Tapi manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang berkehendak. Siang itu istirahatnya bablas sampai Maghrib. Gagal deh mau ke pantai. Habis maghrib kami dipanggilkan tukang pijat, makasih untuk Sani dan kawan-kawan.

Esok paginya, kami baru ke pantai. Tujuan pertama adalah Pantai Pelang. Jaraknya cukup dekat dari rumah Sani. Sampai di sana, waaaah perjalanan yang memabukkan akhirnya terbayar oleh indahnya panorama Pantai Pelang. Ombaknya cantik nan mistis. Kalau diibaratkan dengan artis, mungkin pantai pelang setara dengan almarhumah Suzana. Cantik, tapimisterius. Begitu juga Pantai Pelang, cantiknya penuh misteri.


Suara deburan ombak besar yang terdorong dari Samudera Hindia, angin sepoi, pasir hitam yang mengkilat, dan bukit yang mengelilingi pantai, membuat pemandangan seolah lengkap. Pemandian air terjun juga tersedia di sini. Jarang ada pantai yang berdampingan dengan air terjun, kan?



Setelah puas berfoto, kami berpindah tempat ke penangkaran penyu Kili-Kili. Tapi sayang, sampai di sana penjaganya sedang tidak ditempaat, jadi kami nggak bisa masuk. Hiks.

Ya sudah, akhirnya kami berpindah ke Pantak Konang. Ternyata, Pantai Konang nggak kalah indah dengan Pantai Pelang. Di pantai terdapat perahu-perahu nelayan, juga gubuk-gubuk yang menjual aneka makanan dan minuman. Siang itu saya memesan 1 ikan bakar Salem ukuran cukup besar, seporsi nasi telo, sambal, dan es dawet. Semua itu cukup dibayar 11 ribu saja. Huaaaaah surgaaa buat perutku. Kata Uus, ikan mentah di sini biasa dihargai seribu perak. Waaaaw!!!





Setelah kenyang, kami kembali ke Panggul karena harus ke sekolah. Tapi kemudian sore harinya, kami kembali lagi ke Pantai Konang karena siang tadi rasanya belum puas.







Azan Maghrib pun berkumandang. Dengan berat hati, kami meninggalkan pantai dan kembali ke rumah Sani untuk berkemas menuju Malang.

Saat kami meninggalkan pantai, matahari sedang merah-merahnya karena akan tenggelam, dan dari kejauhan bisa kami lihat kerlap-kerlip lampu dari perahu nelayan yang sedang berlayar mencari ikan. Cantik, seperti bintang-bintang sedang jatuh ke permukaan laut Konang.


posted from Bloggeroid
Labels: 5 comments | edit post
Elita Duatnofa
Bismillahirrahmanirrahiim....

Akhirnya, setelah berbingung ria memilih surat mana yang mau dijadikan pemenang, dapat juga nih 6 surat pilihannya. Yang nantinya akan diseleksi lagi menjadi 3 orang pemenang saja seperti kesepakatan semula.

Nah, surat siapakaaah yang menjadi surat pilihan yang 6 ini?

eeeng iiing eeeng, ini diaaaa:


1. Meykke Santoso
2. Efi Fitriyyah
3. Ifa Avianty
4. Intan Novriza
5. Shine Fikri
6. Adininggar Khintana


Selamat yaaa buat 6 surat terpilih. ^_^

Pengumuman 3 pemenang akan diumumkan di acara Launching buku "Kusebut Namamu dalam Ijab dan Qabul" yang bertempat di Gramedia Bintaro Plaza, jam 15.00.

Oya, saya harap pemilik keenam surat terpilih ini berkenan untuk hadir di acara Launching tersebut yaaa. ;)


big hug,

Lieta
Elita Duatnofa

Gedung tinggi menjulang. Mall berserakan dimana-mana. Restoran berlomba menyajikan makanan termahal. Tempat nongkrong menjamur. Itulah kira-kira yang dirasakan bangsa Indonesia kini, terutama yang tinggal di kota-kota besar.

Seperti saya saat menuliskan ini. Saat ini, saya sedang nongkrong di 7eleven, tempat nongkrong yang sedang naik daun. Saya memang biasa menghabiskan waktu di sini, jika sedang berhubungan dengan deadline tulisan,  ya sendirian, supaya bisa menulis dengan lebih khusyuk dan cepat. Maklumlah, rumah saya selalu ramai dengan suara anak-anak.

Berkali-kali saya mengunjungi 7eleven, di mana pun itu, saya selalu meresa kecewa dengan bangsa saya sendiri. Di tempat ini, ada tulisan yang diletakkan di hampir semua meja, begini tulisannya: Harap membuang sampah sendiri. Tapi, setiap kali saya mengunjungi tempat ini, saya selalu saja menemukan persoalan yang sama, sampah ditinggalkan oleh pemiliknya. 

Sebenarnya mudah saja membuang sampah di tempat ini, tempat sampah disediakan banyak sekali. Di luar saja ada empat tempat sampah ukuran besar. Di dalam saya kira lebih banyak jumlahnya, maaf saya tidak sempat menghitung ke dalam. Intinya, tidak sulit untuk siapapun membuang sampahnya sendiri. Dan ini adalah peraturan yang dibuat oleh pengelola 7eleven. Sayangnya, sesulit itukah membuang sampah bagi masyarakat kita? Padahal jarak setiap meja dengan tempat sampah tidak lebih dari lima langkah. Itu yang terjauh. Tapi faktanya, mereka yang duduk di sebelah tempat sampah pun, langsung pergi begitu saja dan membiarkan sampah-sampah berserakan di meja. Menunggu pegawainya yang membereskan. Egois! 

Bagi saya,ini sangat ironis. Dan memalukan. Nyatanya bangsa kita memang belum siap untuk maju. Dengan gaya yang santai namun modern, mereka beramai-ramai mengadakan meeting di tempat ini, beberapa di antaranya hanya sekadar ngobrol dengan teman se-gank, ada juga pasangan yang sekadar ingin makan siang dan ngobrol-ngobrol ringan, namun kebanyakan yang datang ke sini adalah mereka yang berpenampilan eksmud dan membawa laptop. Terlihat mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. Juga mahasiswa/I, terlihat asyik mengerjakan tugasnya di sini. Well, lihatlah gaya petantang-petenteng mereka semua dengan segala atribut modernitas. Rupanya semua itu tidak diimbangi dengan kesiapan mental untuk menjadi generasi yang maju. Dan saya, sungguh malu melihat kenyataan seperti ini. Apalagi, banyak di antara mereka yang datang dengan mengendarai mobil bagus. Bukankah harusnya mereka ini berasal dari golongan terpelajar? 

Nyatanya, untuk menjadi maju memang butuh kesiapan mental, kesiapan hati, dan karakter. Kemajuan apapun yang tidak diimbangi dengan semua itu, hanya memunculkan sebuah fenomena yang sangat memalukan. Maka, mari kita tanyakan lagi hati kita yang paling dalam, sebenarnya...
sudah siapkah kita untuk menjadi bangsa yang maju?
                                               
With love,
Lieta.