Elita Duatnofa
Saya juga nggak ngerti salahnya di mana, sampai akhirnya banyak orang... oke saya perjelas... sampai akhirnya kebanyakan orang indonesia... nggak suka sama yang namanya mem-ba-ca.

Agak miris karena kita tahu bahwa buku itu jendela ilmu. Terus kalau nggak dibaca, bukunya diapain? Jendelanya diapain?

Miris juga kalau ada orang hobi baca lantas dianggap kutu buku yang notabene juga dianggap cupu. Padahal cupu itu yang kalau diajak ngomong susah nyambung karena pengetahuannya terbatas. Terbatas karena nggak suka baca. Nah, kan.

Memang betul, pengetahuan dan informasi bisa kita dapat dari mana saja selain buku. Ada tv yang tinggal ditonton saja kita udah dapat informasi padat. Ada youtube yang semuanya juga udah ada. Jadi, ngapain harus baca? Gitu kira2 jawaban ngeles dari mereka yang nggak suka baca.

Sedihnya, perilaku nggak suka membaca seringkali diturunkan.oleh orang tua yang juga nggak suka membaca. Jadi seperti kutukan yang turun menurun.

Lantas, kalau kita nggak suka baca, apa saat kita punya anak... kita berharap anak kita nggak suka baca juga? Jawab aja dalam hati masing2. Hehehe. Setahu saya, biarpun orang tuanya nggak suka membaca, begitu punya anak pasti berharap anaknya senang membaca. Harapan yang terlalu muluk, sebab bagaimana anak akan hobi membaca jika jarang melihat orang tuanya membaca.

Saya akan menyajikan 5 manfaat membaca buku yang saya lansir dari detik.com, yaitu:

1. Melatih otak
Saat membaca, otak dituntut untuk berpikir lebih sehingga dapat membuat orang semakin cerdas. Tapi untuk latihan otak ini, membaca buku harus dilakukan secara rutin.

2. Meringankan stres

3. Menjauhkan risiko penyakit Alzheimer
Ketika membaca, otak akan dirangsang dan stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak termasuk penyakit Alzheimer.

4. Mengembangkan pola tidur yang sehat
Membaca buku sebelum tidur akan membantu Anda mendapatkan tidur nyenyak dan bangun segar di pagi hari.

5. Meningkatkan konsentrasi
Orang yang suka membaca akan memiliki otak yang lebih konsentrasi dan fokus. Karena fokus ini, pembaca akan memiliki kemampuan untuk memiliki perhatian penuh dan praktis dalam kehidupan. Ini juga mengembangkan keterampilan objektivitas dan pengambilan keputusan.



Dan ini 20 kelebihan orang yang suka membaca:

1. Dia Bisa Menemukan Kenyamanan Dalam Hal Sederhana

2. Pengetahuannya Pasti Luas

3. Kamu Tidak Perlu Takut Kehabisan Bahan Pembicaraan

4. Orang Yang Suka Membaca Biasanya Lebih Peka

5. Bacaan Memberinya Pandangan Tentang Hidup Yang Tidak Sekedar Hitam-Putih

6. Dari Membaca, Dia Sudah Tahu Banyak Tentang Berbagai Dinamika Hidup

7. Orang Yang Gemar Membaca Akan Lebih Bijaksana

8. Pasangan Inspiratif

9. Membaca Akan Membuatnya Lebih Mudah Mengekspresikan Diri

10. Punya Banyak Kalimat Manis, Tapi Jauh Dari Kesan Gombal

11. Pengetahuannya Bisa Membantumu Menyelesaikan Masalah

12. Menjalani Segala Sesuatu Lewat Proses Adalah Hal Yang Sangat Dipahaminya

13. Dia Tahu Bahwa Akhir Tidak Selalu Bahagia

14. Loyalitasnya Tidak Lagi Diragukan

15. Dia Punya Jiwa Romantis Dan Jiwa Petualang Dalam Satu Badan

16. Bersamanya, Kamu Akan Selalu Haus Pengetahuan Baru

17. Ingin Dapat Partner Diskusi Yang Sepadan? Kutu Buku-Lah Jawabannya

18. Dia Tidak Akan Tergantung Padamu Hanya Karena Takut Kesepian

19. Kalian Bisa Menikmati Keheningan Berdua

20. Dia Setia Dan Memandangmu Lebih Dari Sekedar Penampilan Semata

(Sumber: http://deebacalah.blogspot.co.id/2014/08/20-kelebihan-dari-orang-yang-gemar.html?m=1)

Nah, udah tau kan sekarang perbedaan mereka yang suka membaca dan yang tidak? Kamu pilih jadi yang mana?


posted from Bloggeroid
Elita Duatnofa
And the day is coming. Berangkat juga saya ke Jatim, untuk yang pertama kalinya setelah 17 tahun berlalu. Selama 2 minggu saya menyiapkan semuanya sambil deg-degan. Ya nyiapin materi untuk workshop nanti, ya nyiapin baju, tiket, termasuk mental. Ciusan, saya begitu emosional dalam menyambut keberangkatan ini. Sampai-sampai murid banyak yang saya liburkan supaya bisa fokus nyiapin semuanya dengan baik, terutama materi. Saya emang agak aneh, tiap mau workshop harus bikin materi baru, power point baru, sebab kalau pakai yang sudah ada, saya sendiri kurang greget karena jenuh. Jadi beda workshop harus beda materi gitu. Halah sok idealis yaa hahaha.

Abaikan sudah tentang itu. Sekarang mari ngobrol tentang berangkat ke Jatim, tepatnya Ponorogo. Kamis siang, tanggal 29 Oktober 2015 ba'da zuhur, saya dan dayanti berangkat menuju stasiun pasar senen, dengan melewat berbagaaai hambatan. Hambatan? Ho'oh hambatan. Mulai dari telat berangkat karena nungguin kurirnya penerbit yang nggak kunjung datang, jadi aja kami berangkat jam 1 siang, padahal di agenda kami harus sudah berangkat jam 12 teng setelah sholat zuhur. Sudah jam 1 begitu, naik taksi adalah pilihan terbodoh, karena jalanan di Jakarta itu unpredictable, jadilah kami naik KRL menuju Pasar Senen. Hambatan lain datang saat ternyata kereta jurusan Jatinegara-Pasar Senen nggak nongol-nongol. Hingga kami naik kereta jurusan Kota dan turun di Manggarai untuk transit. Pas di Manggarai, kereta jurusan jatinegara nggak ada juga. Pak petugas mengarahkan kami untuk kembali naik kereta jurusan Kota dan turun di Gondangdia. Begitu kami naik, keretanya nggak jalan juga, harus nunggu lama karena menunggu kereta lain lewat duluan. Oh my god! Akhirnya kami putuskan turun dari kereta dan berjalan keluar stasiun Manggarai untuk naik bajai saja. Asal tahu aja, bawaan kami sebanyak alaihim gambreng. Apalagi bawaan Dayanti, karena dia juga bawa anak.

Singkatnya, kami pun naik bajai. Entah harus bersyukur atau menyesal, kami dapat supir bajai yang gila banget. Lampu merah diterabas, menantang maut pula dengan melawan arah. Dengan bangga supir bajai bilang, "bersyukurlah Mbak dapat supir bajainya saya, kalau nggak, Mbak bakal ketinggalan kereta." Akhirnya saya berusaha mengimani kata-kata pak supir, dan belajar percaya bahwa pertemuan kami dengannya adalah anugerah terindah.

Nggak berhenti sampai di situ, Dayanti masih sempat jatuh ngejogrok di stasiun, begitu melihat seorang teman kami yang juga akan berangkat ke Ponorogo dengan kereta berbeda, namanya Nur. Saya juga heran kenapa sampai jatuh begitu. Sementara Nur yang jadi penyebab Dayanti jatuh, cuma stay cool aja. Dan itu nyata terjadi, xixixi.

Esok harinya, jumat 30 oktober 2015 jam 2 dini hari, kami tiba di stasiun madiun. Aaaaah akhirnyaaa kakiku menginjakkan kaki di tanah Madiun lagiii. Di stasiun, teman kami Kristin yang berangkat dari Indramayu sudah menunggu kami selama 2,5 jam.

Jam 5 subuh, teman kami yang lain yaitu Ansar dan Nur sampai juga. Pas banget dengan jemputan khusus dari pondok yang juga baru tiba. Kami pun segera naik ke mobil. Tapi Kristin galau, dia berubah pikiran dari yang semula berencana pulang hari Sabtu, jadi kepingin pulang hari Minggu. Ya iyalah, pasti betah ketemu kita-kita. Jadilah kerempongan dimulai, bolak-balik ragu mau reschedule tiket atau nggak. Dan akhirnya, Kristin batal reschedule tiketnya. Saya sih udah feeling dia bakal nyesel karena nggak reschedule. Ketemu temen-temen lamanya yang kece badai begini, mana mungkin bisa cukup sebentar.



Mobil pun berjalan meninggalkan Madiun, menuju Ponorogo. Nggak banyak yang berubah, saya masih mengecap rasa yang sama begitu melihat ke kanan dan kiri. Kalaupun berubah, hanya tambahan bangunan di sana-sini, tapi suasana dan aroma nggak banyak berubah. Ingatan saya pun langsung melesat ke 21 tahun yang lalu, saat pertama kalinya saya datang dan melewati jalan yang sama, juga 17 tahun lalu saat terakhir kalinya saya melihat tempat itu. Jiwa saya kemudian tersenyum, menikmati semua pemandangan di depan mata, seraya bergumam... betapa segalanya menjadi jauh lebih indah ketika sudah menjadi kenangan.

(Bersambung)


posted from Bloggeroid
Labels: 0 comments | edit post
Elita Duatnofa
Hari ke-3 di Jatim.

Begitu selesai rangkaian acara di PP. Al Mawaddah, saya diculik oleh teman saya Sani dan dua orang temannya, Uus dan Hanik, menuju Trenggalek. Yang dimaksud tentu bukan Kota Trenggaleknya, melainkan Desa Panggul yang berada di daerah pesisir pantai selatan

Sani sempat tanya pada saya, terbiasa travelling nggak, gitu. Saya jawab, tenang aja... kalau jarak tempuh 2-3 jam sih keciiiil. Buktinya Depok-Bandung yang berjarak 3-4 jam sering saya tempuh bersama suami. Sani juga sempat kasih bayangan, bahwa nanti perjalanan yang kami tempuh akan berliku dan turun naik gunung. Saya langsung menyimpulkan, pasti sama saja dengan Puncak Bogor, nggak ada bedanya.

Sejam lebih kami lewati, ternyata jalurnya beda dengan jalur Puncak, hahaha. Ini jalanan lika-likunya ekstrim, plus APV yang kami tumpangi nggak ada AC-nya. Saya pura-pura baik-baik aja karena nahan gengsi. Masak orang Depok mabuk perjalanan, malu dooong. Tapi sepandai-pandai tupai lompat akhirnya jatuh juga. Eh salah ya? Maksudnya sepandai-pandainya saya nyembunyiin mabuk perjalanan, akhirnya ga tahan juga. Kami pun berhenti di salah satu rumah makan di tepi jalan. Saya langsung keluar mencari udara segar. Aaah enaknyaa. Kemudian ambil posisi duduk di kursi dekat jendela yang viewnya langsung ke sungai. Tapi sayang, sungainya kering kerontang. Huhuhu.

Sani memesankan es campur untuk saya dan Dayanti sepupu saya yang juga ikut serta. Saya minum sedikit buat segarkan badan. And then.... saya tertidur pulas di kursi berkat belaian angin yang saya anggap sedang mengusap mata. Ups semoga saya tertidur tanpa ngorok.

Ketika saya bangun, kami melanjutkan perjalanan yang bikin saya deg-degan. Saya deg-degan takut mabuknya makin parah. Tapi syukurlah, sampai kami tiba di Desa Panggul, tepatnya di rumah ibu mertua Sani, saya masih baik-baik aja dan tetap mempesona. #sigh

Rumah mertua Sani merupakan rumah bergaya campuran Jawa dan modern, punya banyak kamar, dan bersiiiiih bingit. Padahal di rumah besar itu nggak ada pembantu, cuma ada Sani, sang ibu mertua, dan anak tunggalnya Sani, tapi bersihnya luar biasa. Saluuut.

Rencananya, sore setelah istirahat sebentar, kami mau langsung ke pantai. Supaya besoknya setelah mengisi workshop di MTsN Panggul, saya bisa langsung cabut ke Malang. Tapi manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang berkehendak. Siang itu istirahatnya bablas sampai Maghrib. Gagal deh mau ke pantai. Habis maghrib kami dipanggilkan tukang pijat, makasih untuk Sani dan kawan-kawan.

Esok paginya, kami baru ke pantai. Tujuan pertama adalah Pantai Pelang. Jaraknya cukup dekat dari rumah Sani. Sampai di sana, waaaah perjalanan yang memabukkan akhirnya terbayar oleh indahnya panorama Pantai Pelang. Ombaknya cantik nan mistis. Kalau diibaratkan dengan artis, mungkin pantai pelang setara dengan almarhumah Suzana. Cantik, tapimisterius. Begitu juga Pantai Pelang, cantiknya penuh misteri.


Suara deburan ombak besar yang terdorong dari Samudera Hindia, angin sepoi, pasir hitam yang mengkilat, dan bukit yang mengelilingi pantai, membuat pemandangan seolah lengkap. Pemandian air terjun juga tersedia di sini. Jarang ada pantai yang berdampingan dengan air terjun, kan?



Setelah puas berfoto, kami berpindah tempat ke penangkaran penyu Kili-Kili. Tapi sayang, sampai di sana penjaganya sedang tidak ditempaat, jadi kami nggak bisa masuk. Hiks.

Ya sudah, akhirnya kami berpindah ke Pantak Konang. Ternyata, Pantai Konang nggak kalah indah dengan Pantai Pelang. Di pantai terdapat perahu-perahu nelayan, juga gubuk-gubuk yang menjual aneka makanan dan minuman. Siang itu saya memesan 1 ikan bakar Salem ukuran cukup besar, seporsi nasi telo, sambal, dan es dawet. Semua itu cukup dibayar 11 ribu saja. Huaaaaah surgaaa buat perutku. Kata Uus, ikan mentah di sini biasa dihargai seribu perak. Waaaaw!!!





Setelah kenyang, kami kembali ke Panggul karena harus ke sekolah. Tapi kemudian sore harinya, kami kembali lagi ke Pantai Konang karena siang tadi rasanya belum puas.







Azan Maghrib pun berkumandang. Dengan berat hati, kami meninggalkan pantai dan kembali ke rumah Sani untuk berkemas menuju Malang.

Saat kami meninggalkan pantai, matahari sedang merah-merahnya karena akan tenggelam, dan dari kejauhan bisa kami lihat kerlap-kerlip lampu dari perahu nelayan yang sedang berlayar mencari ikan. Cantik, seperti bintang-bintang sedang jatuh ke permukaan laut Konang.


posted from Bloggeroid
Labels: 4 comments | edit post