Elita Duatnofa

Hidup. Hidup itu kayak permen ya? Kadang manis, kadang asam. Campur-campur, bergantian secara tak teratur. Acak saja, tak tertebak, serba misteri. Tapi ya inilah hidup. Yang tersusun rapi itu adalah aritmatika dan geometri. Hidup itu lebih mirip cuaca, bisa diprediksi tapi tak selalu tepat, cuma bisa dipelajari.

Dalam hidup, kita juga nggak selalu dapat apa yang kita mau. Bahkan sering apa yang kita inginkan lari menjauh, dan yang tidak kita inginkan justru datang menyerbu. Seperti halnya cinta. Terkadang cinta yang mati-matian kita pertahankan tetap saja harus kandas. Seperti perjalanan yang harus terhenti sebelum sampai ke tujuan. Menggantung, dan menyakitkan karena semuanya serba terlanjur. Terlanjur dijalani, terlanjur menghabiskan waktu, terlanjur berkorban banyak, terlanjur ada anak-anak, dan ratusan keterlanjuran lainnya. Pedih, pasti.

Lalu mau apa? Karena memang beginilah hidup. Sebagaimana manisnya yang kita reguk tanpa penolakan, maka pahitnya pun harus kita terima sebagai sebuah paket. Paket perjalanan. Maka menangis dan tertawalah tanpa menolak. Sadari sebaik mungkin, bahwa apapun yang terjadi… tidak lebih dari sebuah proses dan pelajaran. Semua akan berlalu jika tiba saatnya. Tidak ada yang abadi, maka kesedihan pun tak mungkin abadi kan? Syaratnya hanya percaya, percaya bahwa kelak kita juga akan bahagia, itu pasti. Semakin kita percaya, semakin cepat kita bahagia. Saya yakin itu.

Ah, hidup. Jadi apa sih sebenarnya yang diinginkan kehidupan dari kita? Itu yang seringnya lupa kita cari tahu. Lupa kalau masing-masing kita punya tujuan sewaktu diciptakan. Saya percaya setiap orang punya tujuan dan peranannya masing-masing untuk kehidupan. Sudahkah maksimal peranan itu? Tapi kebanyakan orang lebih sering mempertanyakan apa yang dia inginkan dari kehidupan. Padahal keduanya sama pentingnya, saling mengisi dan menyeimbangkan, seperti Yin dan Yang.

#tulisan ini saya dedikasikan untuk seorang sahabat.dituliskan dengan alakadarnya. sesederhana dan sesingkat mungkin. ;)



Elita Duatnofa

Kemarin, saya mengantar dan menunggui Zytta putri saya ekskul renang. Belakangan ini saya memang nggak pernah menunggu sampai selesai, karena jadwalnya bentrok dengan kesibukan saya (jiyeee sibuk nih yeee!). Saya cuma mengantar, menjemput pun kadang saya alihkan ke ayahnya ataupun tukang ojek. Jadi, itulah pertama kali saya menemani Zytta lagi.

Karena bukan cuma Zytta yang belajar renang dan ada belasan anak lainnya di situ, itu artinya juga ada belasan ibu-ibu yang menunggu sang anak. Awalnya saya cuma cengar-cengir basa-basi ke ibu-ibu yang lain, mondar-mandir ke sana ke mari buat ngilangin pegel karena kelamaan duduk, atau sibuk berkutat dengan ponsel, bbm-an, sms-an, dan fesbukan sebagai upaya ngilangin rasa jenuh. Pingin banget saya tidur-tiduran aja di rumah, atau mendingan nulis daripada disuruh nunggu 3 jam kayak begini. Tapi eh lama-lama saya malah jadi asyik ngobrol dengan ibu-ibu yang lain.

Sempat juga sih dibikin shock sama seorang ibu yang ngomelin anaknya gara-gara anaknya nggak mau renang. Anaknya nangis kejer, tuh ibunya makin keras juga ngomelinnya, anaknya makin kejer lagi, ibunya malah makin kenceng lagi suaranya. Bergema bagaikan pengganti petir dalam hujan siang itu. Diancam mau digebukin kalau nggak mau renang, dan dipatahin kakinya. Ini emak-emak “sakit” apa ya? Anak nggak mau kok dipaksa. Jujur saya jadi takut sama tuh ibu-ibu. Kasihan anaknya.

Kejadian itu jadi mengingatkan saya pada kejadian beberapa hari lalu. Saat itu saya sedang belanja sayur dan buah di supermarket dekat rumah. Kebetulan sayur dan buah yang saya cari itu nggak ada di warung-warung sayur kecil di sekitar rumah saya. Sewaktu lagi asyik memilih sayur, saya dikagetkan oleh suara anak kecil yang menangis dan teriak kesakitan. Orang-orang juga mulai panik dan mendatangi pintu masuk, tempat suara anak itu berasal. Semua berkerumun mengelilingi anak itu, sehingga saya sendiri jadi nggak bisa melihat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dari pembicaraan orang-orang yang melihat, anak itu terjepit di pintu masuk. Cukup lama anak itu meraung-raung sampai akhirnya berhasil dilepaskan dari pintu dan kemudian digendong ibunya.

Tapi sumpah saya kaget bukan main. Begitu kerumunan orang mulai bubar, saya bisa melihat dengan jelas, sambil digendong anak itu dipukuli oleh ibunya. OMG! Anak yang tadi kejepit itu? Sekarang malah dipukuli ibunya? Saya jadi keceplosan bergumam, “parah tuh ibu-ibu, anaknya udah kejepit, sekarang malah dipukulin.” Beberapa karyawan yang mendengar gumaman saya tersenyum dan ikut geleng-geleng kepala. Serius saya jadi gemes sama ibu-ibu itu. Coba dia yang kejepit di pintu, dan habis itu dia kena pukul, apa reaksinya? 

Kita, para orang tua sering banget kurang memperhatikan perasaan anak-anak. Merasa bahwa tugas orang tua hanyalah menyekolahkan dan memberi makan. Urusan perasaan di luar tanggung jawab. Pemikiran yang menurut saya sungguh keliru. Saya yakin sebagian orang tua zaman sekarang sudah tidak sekaku dulu dan lebih mau belajar mengerti perasaan anak-anak. Tapi sebagian lainnya ini masih memprihatinkan.

Saya juga belumlah jadi orang tua yang ideal dan sempurna. Masih jauh dari status orang tua idaman. Tapi saya belajar bahwa perasaan anak-anak harus dinomorsatukan. Memukul anak, apalagi di depan banyak orang bagi saya sangat-sangat tidak manusiawi. 


Saya sendiri pernah keceplosan memarahin anak di depan orang, saking sudah hilang kesabaran. Tapi setelah itu saya sangat menyesal. Terutama jika ingat tentang koleksi pengalaman masa kecil saya sewaktu dimarahi di depan banyak orang walaupun tidak pernah dipukul, masih terekam dengan jelas sampai sekarang. Kejadian itu yang membuat masa kecil saya banyak mindernya dan pemalu. Setiap diajak pergi ke suatu tempat, belum apa-apa saya sudah merasa takut dimarahi… saya takut sekali akan menerima perlakuan memalukan lagi. Dan, saya tidak ingin itu terjadi pada anak-anak saya sekarang.

Karena alasan itu jugalah saya memberhentikan si bungsu-Qai dari TKnya. Sebab saya tidak terima anak saya yang kidal itu dianggap aneh dengan memaksanya menulis dengan tangan kanan. Sungguh anak saya berubah menjadi minder di sekolah karena dianggap berbeda. Merasa teman-temannya normal sementara ia tidak. Saya tidak bisa membiarkan itu terus berlanjut, maka saya putuskan untuk mengajari sendiri anak saya di rumah.

Adapun sekarang Qai mulai merasa jenuh di rumah, kegiatannya hanya di kelas TPA di sore hari. Saya sadar ia ingin menambah kegiatan. Tapi saya juga tidak mau anak saya jatuh di metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakternya. Saya ingin ia merasa nyaman dan diterima, karena itulah yang paling penting untuknya. Sebuah lembaga sepertinya cocok untuk Qai, kami akan mencoba trialnya minggu depan. ;)

Ya, begitulah. Menjadi orang tua memang tidak mudah. Sangat sulit untuk jadi orang tua yang sempurna. Susah sekali untuk jadi orang tua yang tidak mudah marah. Tekanan hidup dan lingkungan terkadang ikut mempengaruhi. Tapi ada hal-hal yang seringnya kita anggap sepele namun besar artinya untuk anak-anak, yaitu perasaan. Anak cuma ingin didengar dan dimengerti. Begitu, kan? Keinginan yang sama dengan keinginan kita pada orang tua kita dulu, didengarkan, dimengerti. Jangan membuatnya merasa dipermalukan dengan memarahinya di depan orang banyak. Mereka permata hati kita, kan? Jiwa-jiwa dimana kita akan bersandar ketika usia sudah mulai senja. Maka perlakukanlah mereka dengan santun, sebagaimana kita juga ingin diperlakukan dengan santun saat menua.

Ah, tidak terasa hari mulai sore. Dari kejauhan Zytta memanggil-manggil saya. Meminta saya untuk melihatnya dari dekat. Sebenarnya sama malas terlalu dekat ke kolam renang. Lebih nyaman duduk-duduk saja di bangku kayu dekat kantin. Tapi bagaimana perasaannya jika saya menolak? Maka saya berdiri dan menjauhi bangku kayu yang nyaman itu, lalu perlahan menuju kolam renang. 

“Bunda, sini lihatin Zytta! Ntar perhatiin ya Nda pas giliran Zytta yang disuruh praktek sama Pak Guru.”

 Saya pun tersenyum. Ah, anak-anak. Sesungguhnya mereka cuma ingin melihat kita bangga pada usaha dan keberhasilannya. Seperti Zytta sore itu, ia cuma ingin saya tahu bahwa ia sudah berhasil mengapung di dalam air. Hmmm. 


Elita Duatnofa

Prolog
Hmmm, ngelihat mbak Windi bikin give away, saya jadi latah pengen ikutan. Ketularan hasrat berburu hadiah lewat ngeblog. Hahah. Apalagi begitu tahu kalo ternyata Mbak Leyla udah duluan ikutan, jadi semakin semangat euy.


About My 2012
Wah wah waaah… sudah Desember ya. Artinya tahun baru segera muncul. Bahkan bau-bauan tahun 2013 udah mulai kecium. Saya sungguh bisa mengendusnya. Apa teman-teman bisa menciumi baunya juga? Cobalah diendus, ada bau bawang goreng,  bercampur bumbu-bumbu lainnya. Ups, maaf. Kayaknya itu bau harum nasi goreng keliling yang dipesan tetangga saya. Hihihihi. 

Well, ngomong-ngomong tahun 2012, saya jadi ingat daftar panjang keinginan saya untuk tahun 2012, yang saya tulis di akhir tahun 2011. Saya memang nggak tanggung-tanggung kalau punya keinginan. Bagi saya, yang penting bermimpi aja dulu. Karena mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia, berlarilah tanpa lelah sampai engkau meraihnya. Eh, kok saya jadi nyanyi? Tapi ya itu, bagi saya berkeinginan saja dulu. Tercapai ataupun nggak, itu urusan lain. Walaupun kalau bisa sih ya tercapai. Kalau nggak sepenuhnya ya separuhlah, atau kurangin lagilah sedikit, asal balik modal. Duh, saya ngelantur lagi. Maaf, soalnya saya suka main ke tanah abang… nawar-nawar dagangan. Hihihi.

Begini ya, berhubung saya ini pernah jadi single fighter sampai awal 2011 kemarin. Dan pernah mengalami kesusahan sampai jual-jual barang yang ada di rumah sampai rumah hampir kosong melompong, hu hu hu, hiks. Jadi daftar keinginan saya nggak jauh-jauh dari otak matre emak-emak seumuran saya. Hayo tebak umur saya berapaaa? (nggak penting, jangan dijawab :p).  Nah, daftar keinginan saya itu nggak jauh-jauh dari barang-barang kebutuhan emak-emak seperti: mesin cuci automatic (nyindir hadiahnya Mbak Windi), TV (nyindir Mbak Windi lagi), dan perabotan rumah tangga lainnya yang cuma bikin saya malu aja kalau mesti disebutin satu persatu. Dan Alhamdulillah, sudah terpenuhi walaupun belum 100%. Bersyukur saja pokoknya.

Nah, selain keinginan-keinginan yang menguak sisi matrealistis seorang Elita, saya juga punya resolusi yang bersifat pribadi dan tidak ada hubungannya dengan materi (bohong). Misalnya, saya ingin hubungan saya dengan orang tua jadi membaik dan tidak kaku, eh alhamdulillah terwujud. Saya juga ingin kenal dengan penulis-penulis senior sekelas Leyla Imtichanah, Riawani Elyta, dan Eni Martini lalu menimba ilmu dari mereka, Alhamdulillah itu juga terwujud.  Apalagi ya resolusi saya yang berhasil? Oh itu, usaha coklat praline saya semakin meluas, menerbitkan buku lagi (walaupun buku tutorial hijab :p), dan saya semakin manis setiap hari (hueeek! Pembaca dipersilakan mengambil kantong plastik terdekat jika tiba-tiba mual tidak tertahankan).

Tapi banyak juga resolusi yang keberhasilannya diragukan karena nggak nongol-nongol juga sampai bulan udah jadi Desember. Yaitu: naskah non fiksi saya belum juga ada yang mau nerbitin, padahal udah menggandeng Mbak Aida MA buat bantuin saya nyelesain naskah itu. Saya juga gagal langsing di tahun ini, padahal target saya tuh saya harus sudah langsing kembali pas ultah saya yang ke-30.  Maka jadilah tertulis di perut buncit saya tulisan ini: mission failed. Hiks. Oya, resolusi saya yang lain untuk tahun 2012 adalah aktif menulis, termasuk menulis di blog pribadi. Meskipun isinya cuma catatan-catatan pribadi, hasil perenungan semenit, maupun curhat terselubung yang saya khayalkan terbaca oleh editor dan dilirik buat dibukukan. Hahahah. Boro-boro dilirik, isinya aja sepanjang tahun cuma beberapa postingan. #mimpi.


Welcome My 2013
Maka saya hanya bisa mengakumulasikan failed resolutions saya itu untuk kemudian bisa terwujud di tahun selanjutnya yaitu 2013. Tentu saja dengan tambahan resolusi lainnya.
Semakin aktif menulis adalah resolusi saya yang pertama, semoga berhasil memiliki 3 buku yang terbit di tahun 2013. Memperbanyak bacaan adalah resolusi yang kedua supaya resolusi pertama saya itu bisa terwujud dengan baik, karena konon katanya penulis yang baik adalah juga pembaca yang baik. Resolusi ketiganya adalah memajukan Ink Publishing. Dan yang ke-4 adalah menuliskan kisah hidup saya menjadi novel dan novel itu best seller, beeeeuh berat yak? Hihihi. (lo pikir kisah hiduplo menarik, gitu? :D)

Tapi ada yang jauh lebih penting dari resolusi yang saya sebutkan tadi. Sesungguhnya keinginan terbesar saya adalah ikhlas. Sebuah kata yang sangat sederhana untuk diucapkan tapi terkadang berat untuk direalisasikan. Sungguh saya ingin diberikan kemampuan untuk memiliki seikhlas-ikhlasnya jiwa, yang menerima keburukan masa lalu sebagai bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Sampai detik ini, saya akui saya belum sanggup untuk sepenuhnya ikhlas atas kepahitan yang harus menimpa saya dan anak-anak kala itu. Kenangan buruk itu masih suka mampir menjejali otak saya dengan cerita-cerita miris yang awalnya saya kira cuma mimpi. Pengorbanan yang sepertinya tak terbayar. Dan… akh, itu yang paling membuat saya muak: kehadiran seseorang yang mengusik kebahagiaan kami. Itu yang paling saya sesalkan. Kenapa harus ada orang itu? Seseorang yang saya ragukan apakah ia memiliki hati atau tidak, saya ragukan nuraninya, dan saya ragukan akal sehatnya. Sampai detik ini saya masih belum tahu untuk apa orang itu hadir di kehidupan kami selain memberi saya luka yang teramat dalam, dan ingatan yang tak kan pernah hilang. Saya sangat membencinya. Sangat.

Maka itulah resolusi terbesar saya untuk tahun 2013. Saya ingin ikhlas, membiarkan yang sudah terlanjur terjadi cukup tertinggal di belakang, tidak menghubung-hubungkannya dengan masa sekarang. Semoga Allah memberikan saya kebesaran jiwa dan kekuatan iman, sehingga tak ada satupun yang menari di otak saya kecuali kesadaran bahwa Allah memiliki maksud baik atas peristiwa yang melukai saya itu. Amiin.


Windi Is The Queen of Blogger Contest
Udah ah sedih-sedihannya. Heheh. Sekarang saya mau ngomongin si tuan rumah.
Saya mengenal Mbak Windi lewat sebuah komunitas Be A Writer bentukan Mbak Leyla Imtichanah. Nggak terlalu kenal sebetulnya karena belum pernah bicara secara personal. Tapi saya tahu banget kalo Mbak Windi itu ratunya lomba blog. Sering banget menangin lomba lah. Keyeeen! (baca: keren). Kalo ada info lomba di grup kami, hampir bisa ditebak itu Mbak Windi yang memposting. Teruslah berbagi info, sist! Dan teruslah ngomporin kami buat rajin ngeblog, sesuatu yang positif memang perlu ditularkan. (ini buktinya udah mulai ketularan kan? :D)

And the last.... selamat menyambut usia 30, Mbak Windi. Teruslah menginspirasi! ;)



Elita Duatnofa
30 tahun. Heheh. Kalo ngucapin kata "30 tahun" itu saya pingin ketawa sendiri. Serasa ditabok, ditampar, terus diunyeng-unyeng. 30 tahun, ciiiin! itu jumlah umur saya sekarang, tepatnya 23 November kemarin. Ah padahal jiwa saya masih terperangkap di usia 25. (ngarep)

ngomong-ngomong, jelang ultah yang ke-30 kemarin. sebenernya saya udah GR tingkat tinggi. saya pikir di usia yang spesial ini saya bakalan dapet surprise apaaa gitu dari ayahnya anak-anak. Saya ngayal bakal dibangunin di pagi hari dengan kue tart berhiaskan 30 lilin di atasnya. sayangnya saya lupa berdoa supaya khayalan saya itu jadi kenyataan, sehingga apa yang saya khayalkan itu tetep jadi khayalan doang. hiks.

sebenernya saya bukannya nggak dapet kado. dapet sih. tapi dikasihnya justru sebelum hari ultah saya, dan masih dalam bentuk mentahan pula, bukan barang. bukannya nggak seneng, seneng sih. dan bukannya nggak bersyukur, bersyukur mah bersyukur. cuman saya jadi nggak merasa surprise gara-gara disuruh beli kado sendiri. hu hu hu. seneng sih seneng, tapi nggak greget, kurang cetarrr membahana gitu kalo kata Syahrini.

tapi emang bener ya, orang sabar tuh ada aja hadiahnya. (hahaaah... jadi maksudnya lo sabar gituh? :p)
di antara segitu banyaknya orang yang ngucapin selamat dengan embel-embel minta traktiran, ada satu orang yang rada beda sama yang lain. nih orang ngucapin selamat dan ikut berdoa yang katanya sih isi doanya itu rahasia. udah gitu, dia pula yang mau nraktir: tiramisu cake. sssst... jangan suudzon dulu, orang yang saya ceritain ini perempuan kok! sesama teman menulis dan kebetulan juga rumahnya nggak terlalu jauh. tapi demi keamanan dan kenyamanan bersama, saya nggak mau sebutin kalo orang itu adalah mba Umiq. takutnya mba Umiq risih kalo saya sebutin kebaikannya di sini.

Tapi ngomong-ngomong ulang tahun. Jujur aja saya ngerasa udah 2 tahun ini ulang tahun saya menghasilkan sesuatu. Yang mungkin sepele buat orang lain tapi gede banget artinya buat saya. Ulang tahun yang duluan, alias ultah saya yang ke-29, novel berantai yang notabene bikin nama saya pertama kalinya ada di buku, terbit. Jadilah saya menganggap itu sebagai kado ultah saya yang paling indah. Dan ultah yang ke-30 ini, buku tutorial hijab yang bikin nama saya nemplok di situ... juga siap edar. Beeeeuh, bener-bener ini kado ulang tahun yang bikin saya deg-deg seeerrr. Sssst... itu adalah pertama kalinya pose-pose saya ada di buku, dan dibeli orang pula tuh buku yang ada foto sayanya. Hihihihi.Yaaa, anggap aja ini kebahagiaan yang tertunda dari ultah-ultah saya yang dulu, soalnya seingat saya dari tahun 2007 sampai tahun 2010 ulang tahun saya kelabu terus. hu hu hu. Sendirianlah pokoknya.

Ya, inilah saya di usia 30 tahun. Masih belum bijak, masih banyak kekurangan. Masih ingin terus memperbaiki diri. Semoga semakin baik setiap hari, amiin.





Elita Duatnofa

Sudah masuk bulan Desember. Waktu emang cepet banget jalannya. Bikin semuanya nggak berasa, tau-tau udah mau ganti tahun lagi, bumi makin tua, kita juga.

Dan seperti biasa, saya masih menjadi seorang pelupa tingkat benua. Bahkan saya lupa akan janji-janji saya pada diri sendiri. Janji yang sebetulnya kecil-kecilan, tapi baik untuk jangka panjang kehidupan saya: menulis setiap hari, dan minimal sebulan sekali nambahin contain di blog saya yang sebetulnya bakalan unyu-unyu kalo saya bikin jadi unyu. Begitu tahun hampir nambah umur, saya baru ingat, dan membuat saya terpaksa harus merangkum lagi kejadian selama setahun.

Tahun 2012. Saya nggak tahu harus menyebutnya sebagai tahun apa untuk mewakili kehidupan saya secara menyuluruh di tahun ini. Kalau orang cina punya shio-shio untuk menggambarkan tahun-tahun tertentu, saya punya apa ya?

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini juga memberi saya banyak sekali pelajaran hidup. Bedanya, kalau tahun-tahun yang duluan ibroh itu saya petik dari permasalahan pribadi, percintaan, dan keluarga. Tahun ini sedikit berbeda. Pelajaran-pelajaran itu saya dapatkan dari dinamika berkomunitas. Adaaa aja permasalahan dengan teman di komunitas-komunitas  yang saya ikuti. Saya sampe mikir, ini kenapa gw kerjaannya bermasalah melulu ya sama orang? Jangan-jangan karakter gw yang sebetulnya bermasalah.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, (maklum saya hobi mikir), ah nggak jugalah. Toh saya nggak bermasalah dengan semua orang yang saya temui di hidup saya kan? Setahun ini, saya cuma pernah bermasalah dengan…  sebentar sebentar, saya hitung dulu. Hmmm, saya bermasalah dengan 2 orang di komunitas, kesemuanya karena salah paham aja sih. Biasalah perempuan, suka sensi-sensian kan? :D selain itu saya bermasalah dengan 3 orang lainnya di urusan bisnis, yang satunya murni karena kesalahan saya (dan sudah selesai karena kebesaran hati orang tersebut), sisanya bukan. Jadi rata-rata 2-3 bulan sekali saya bermasalah dengan seseorang. 

Awalnya ketika di tengah permasalahan, saya gusar, pasti. Tapi lama-lama saya mikir (mikir lagi, ini menunjukkan loh… bahwa saya memaksimalkan fungsi otak :p), setiap permasalahan adalah babak baru dalam kehidupan. Dan babak-babak itu akan terus berjalan, mengampiri lalu pergi. Begitu seterusnya. Maka sesungguhnya setiap babak mengandung pelajaran berharga, kita sendiri yang menyimpulkan ibroh apa yang sebenarnya bisa kita dapatkan dari kesemuanya. Jika kita berpikir positif, maka ibroh yang kita ambil pun positif. Tapi jika tidak, maka yang muncul adalah kepicikan dan timbul pula hasrat untuk men-judge bahwa si A begini dan si B begitu. Nggak ada habisnya. Nggak ada selesainya. 

Bagaimana pun juga, semua dinamika yang terjadi ini patut saya syukuri. Ini menunjukkan bahwa saya masih hidup! Dan betapa kayanya saya dengan segala macam permasalahan yang pernah saya terima. Permasalahan adalah kekuatan dan penuntun.  Bukankah kita tidak akan pernah menjadi “besar” tanpa masalah? (sambil ngelap air mata, sebenernya saya lagi menghibur diri sendiri, heheh.)

Itu tadi yang sedih-sedihnya. Sekarang saya mau ngomongin bagian senengnya. Apa ya yang bikin saya seneng di tahun ini? Hmmm, buanyaaak. 

Saya seneng dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang hobi banget bantuin saya kalo saya lagi susah, tapi juga mau ikutan ketawa kalau saya lagi ketawa.  Selain itu, syukur yang tak terhingga buat semua kepercayaan yang diberikan pada saya di tahun ini. Beberapa kepercayaan yang awalnya bikin saya shock. Ngerasa belum pantes buat dipercaya ini itu. 

Bagaimanapun juga Allah memang maha baik. Kalau beberapa tahun kemarin dunia saya seperti gelap, badai pun pernah datang memporak-porandakan hidup saya, sementara badai lainnya sudah menunggu untuk melumatkan sisa kehidupan yang saya punya ,bahkan beberapa kejadian membuat saya merasa sangaaat kecil, terhina, tersungkur, tak diinginkan, terasing, seolah seluruh tubuh saya sampai ke organ dalam diliputi perasaan malu dan rendah diri. Inilah tahun dimana Allah memberi banyak sekali pelangi di hidup saya. Mengangkat saya dari kubangan kotor dan membersihkannya, bahkan kemudian menempatkan saya di lingkungan yang lebih baik. Alam jauh lebih terang. Orang-orang yang pernah tersenyum dengan kehancuran saya telah tereliminasi sendiri.  Yeah, this is life… a wonderful life.

Hmmm, mungkin saya bisa menyebut tahun ini sebagai ….tahun pelangi.  ;)