Showing posts with label Crazy Things. Show all posts
Showing posts with label Crazy Things. Show all posts
Elita Duatnofa

Seandainya aja … di dunia ini ada external memory buat otak manusia, mungkin saya bakalan berjuang nabung mati-matian buat membelinya. Suer, isi otak saya udah luber, kepenuhan, and it’s soooo crowded. Masing-masing “file” punya kepentingan sendiri-sendiri, bejubel, berjejalan di kepala saya, saya yakin ramainya ngalahin pasar tanah abang kalau menjelang lebaran. Ciuus.

Kedodolan-kedodolan yang saya alami, kadang saya jadikan status di fesbuk atau twitter.  Sampai beberapa orang nanya, meragukan kebenaran hal dodol –mendodol itu. Mereka sangsi apa benar tampang saya yang seperti orang baik-baik ini bisa ngalamin hal dodol kayak gitu. Huaaah, emangnya dodol itu sebuah kejahatan? Dodol itu nama makanan! Xixixixi. Hmmm, tapi beneran mereka sangsi, masa sih ada sebuah penyakit bernama dodol yang sampe segitu ajaibnya? Bahkan beberapa teman yang nggak benar-benar mengenal saya, berpikir itu cuma status karangan saya aja, buat lucu-lucuan. Hah? Kalo gitu mah namanya saya sedang mencemarkan nama baik saya sendiri. Hihihi. (FYI: itu kan segitu yang saya jadikan status, belum laagi yang  nggak saya jadikan status… jauh lebih buanyaaak :D)

Begini ya sodara-sodara. Jangan kira jadi manusia dodol itu enak. Sumpah itu kadang jadi nyusahin banget. Bikin pingin nangis, walau juga lucu kalo mau dipikir-pikir. Emangnya enak gitu, hampir setiap pergi harus balik lagi ke rumah karena ada barang yang ketinggalan? Belum lagi urusan salah kirim SMS, salah jadwal libur anak, salah hari, isi kopi yang kebuang ke tempat sampah dan bungkusnya malah ditaruh di gelas, itu semua bikin bete’ karena bisa berakibat pemborosan juga. Ya boros waktu, boros uang juga. (kalo saya lagi di acaranya Tukul Arwana, pasti dia bakal bilang: amaaziiing! amaaziiiing! sambil tepuk tangan)

Tapi saya pikir-pikir lagi, saya rasa, daripada saya nangis, mending saya ketawa sendiri, ngetawain keajaiban diri sendiri, malah Alhamdulillah bisa ketawa ngikik tanpa ngetawain orang lain. Saya coba ngambil sisi positifnya, bahwa biar gimana juga, saya beruntung bisa ngerasa lucu dari hal-hal sekitar saya sendiri.  Judulnya tetep aja Allah Maha Baik, Dia tahu saya selalu butuh hiburan, walaupun hiburan itu harus saya dapatkan dari kedodolan diri sendiri. :p

Sekarang kalo ada yang tanya kenapa saya bisa dodol, saya mau jawab, “karena saya ajaib.” :D

Elita Duatnofa

Fokus. Saya tidak begitu paham definisi “fokus” secara maknawi. Tapi yang saya ingat, saya mampu menyerap pelajaran sekolah dengan baik sewaktu dulu. Mungkin itu karena saya mampu fokus pada materi yang dijelaskan oleh guru.

Kemudian  saya pun tumbuh dan berkembang sebagaimana remaja lain. Ketika akhrirnya saya mulai dewasa dan  menikah, saya mulai menyadari bahwa salah satu penyebab kegagalan saya adalah karena saya tidak fokus. Terbukti saya memiliki banyak cita-cita, hanya karena saya merasa mampu di segala bidang. Huft, kepongahan masa muda yang memberi saya banyak sekali pelajaran. Karena nyatanya saya tidak mungkin menjadi seorang psikolog, sekaligus ahli kimia dalam satu waktu.  Saya ingin mengejar semuanya, dan justru gagal dalam semuanya.

Kini lupakan soal masa lalu yang penuh pembelajaran itu. Sekarang saya ingin bicara tentang kesulitan fokus dengan versi yang baru. Ya, entah kenapa saya sulit sekali fokus dalam keseharian. Padahal sejatinya saya ini tidak termasuk bodoh, yaaa… cuma sedikit tulalit. Dan terlalu gampang lupa akan sesuatu, ups… kecuali uang!

Kasus 1:
Malam itu saya sedang berdebat dengan suami tercinta, tidak perlu saya sebutkan bahwa kami berdebat soal uang. Suami mengeluarkan pendapatnya, saya bantah dengan opini saya. Giliran saya menjabarkan argumen, suami membantainya dengan sudut pandangnya sendiri. Tidak ketemu-ketemu juga titik tengahnya. Dan kami terus saling bantah. (jangan heran, ini hal biasa).

Ketika itu giliran saya bicara, setelah suami membeberkan semua uneg-unegnya. Itulah saat yang saya tunggu-tunggu, ingin balas membeberkan uneg-uneg saya juga. Sudah sejak tadi saya menunggunya berhenti bicara. Kami memang punya aturan, walaupun bertengkar, yang satu tidak boleh bicara jika yang lainnya belum selesai bicara. Jadi bertengkar pun perlu sopan santun.

Mulailah saya mengeluarkan kalimat-kalimat yang saat itu saya harap bisa menohok langsung ke hatinya. Rangkaian kalimat yang sudah sejak tadi saya susun supaya rapi dan sistematis. Sampai-sampai saya tidak terlalu dengar apa yang ia sampaikan, karena saya sibuk memikirikan apa yang akan saya sampaikan.

Tapi tiba-tiba, ketika semangat bicara sedang menggelora dan sedang seru-serunya menumpahkan isi hati. Sesuatu menarik perhatian saya. Mata saya pun jadi teralih ke plafon kamar yang berwarna putih itu. Saya tidak tahu itu apa, makanya saya jadi tertarik untuk memperhatikan.

“Itu capung ya, yah?” tanya saya pada suami. Suami ikut tertarik memperhatikan apa yang sedang saya lihat.

“Oh, iya itu capung.” Begitu jawabnya.

“Kok bisa ada di sini malam begini?” lanjut saya lagi.

“Nggak tahu tuh.” Katanya sambil sedikit mencibir dan mengangkat alisnya.

Sejenak kemudian kami sama-sama terdiam. Saya tengok mukanya yang juga masih bingung.

“Tadi kayaknya kita lagi marahan, ya?” tanya saya polos padanya.

“Nah… Bunda. Lagi seru-seru ngambek bisa-bisanya mikirin capung. Lanjutin aja kalo mau.”

“Ogah ah. Udah ilfil. Lagian udah lupa tadi kita lagi ngeributin apaan.”

Setelah itu kami tengok-tengokan, senyum-senyum simpul, dan akhirnya tertawa. Melupakan pertengkaran barusan. Gagallah saya menumpahkan isi hati karena seekor capung.

Kasus 2:
Saya dan Mbak Tati sedang duduk di kursi pengunjung di sebuah mall. Sebelah kanan kami ada berderet baju-baju wanita dengan aneka model. Di depan kami persis, adalah toko sepatu. Di sebelah kiri kami kosong karena beberapa meter ke kiri adalah pintu masuk mall. Sementara di belakang, saya tidak lihat ada toko apa karena Tuhan menciptakan mata di depan, tidak di belakang.

Kami duduk di sana berdua karena sedang menunggu teman-teman lain yang belum datang. Daripada bengong, kami memutuskan untuk berbincang, dan curhat-curhatan skala kecil.

Sudah ditebak, saat sedang seru-serunya saya curhat, pandangan saya teralih pada sebuah maxi dress, dan langsung bilang pada Mbak Tati, “ih, Mbak…. Itu maxi dressnya kok sama persis dengan dress yang aku jual ya?”

Murka lah Mbak Tati siang itu. Dan dia bilang, “plis deh, Ta. Elo kan lagi cerita seru, kok bisa-bisanya sih lo ngomongin baju segala?”

Saya sih bisa maklum kalau ia murka. karena Mbak tati bukan satu-satunya orang yang murka dengan kebiasaan saya. Dan Mbak Tati juga sudah terlalu sering mendapatkan pertanyaan dari saya seperti, “tadi gue lagi ngomongin apa ya, Mbak?” di tengah serunya saya bercerita.

Kasus 3:
Zytta anak peremuan saya, senang sekali main game Barbie di play station. Dia biasa bermain di hari Sabtu dan Minggu.

Sabtu itu, ayahnya yang kebetulan adalah suami saya, meminta saya untuk mencarikan cheat code-nya lewat mbah Google. Agar mudah mencarikannya, saya bawa cover CD game-nya ke ruang depan. Cover itu saya letakkan di dekat computer, sementara saya menyalakan komputernya, bersiap untuk browsing.

Komputer sudah siap digunakan, saya klik Mozila firefox. Dan lanjut dengan membuka FB, twitter, gmail untuk cek email yang masuk, juga blogger. Beberapa status teman di FB menarik perhatian saya dan saya mulai sibuk mengomentari. Beberapa email yang masuk juga mengandung file yang perlu saya download dan baca.
Kemudian saya lanjut dengan membuat status sendiri. Eh, ada yang komentar, maka saya balas. Ups, makin banyak yang komentar, saya pun mulai masuk ke dunia “comment”.

“Bunda, udah dapet belum?” suami saya bertanya dari dalam kamar anak-anak.
“apanya?” tanya saya bingung.
“cheat code-nya. Kan tadi ayah minta tolong browsing-in.”

Waduh, gawat! Saya lupa!

“Iya, sebentaaar. Ini lagi dicariiii.” Begitu jawab saya sambil buru-buru mengetik key word di pencarian google.

“kok lama amaat? Dari tadi bunyi keyboard tak-tek tak-tek ngapaiiin?” duh, si ayah masih nanya.

“iyaa, lagi nyari yang paling bagus cheat code-nya.” Dan lagi-lagi saya terpaksa nge-les. :p

“Bilang aja lupaaa.” Teriaknya masih dari kamar, tapi kali ini terdengar sambil tertawa.

Saya rasa cukuplah 3 kasus di atas menggambarkan betapa menderitanya saya sekaligus juga bahagia. Menderita, karena saya sendiri sering dibuat repot oleh diri sendiri. Bahagia, karena pada akhirnya baik saya maupun orang sekitar menjadikan ini sebagai sebuah lelucon tanpa naskah, penuh spontanitas dan jauh dari unsure kesengajaan. Bukankah yang alami selalu lebih baik? Weeew saya mulai nge-les lagi.

Ya, bicara tentang “fokus”… saya mungkin orang yang sulit untuk focus, pada saat ini. Tapi tidak berlaku untuk rencana-rencana hidup saya ke depan.  Saya masih dan akan tetap selalu focus pada tujuan saya, sebuah impian. Saya sudah berhasil untuk focus pada satu tujuan utama, dan saya sudah mengerti apa yang saya mau dalam kehidupan. Saya telah menetapkan pilihan saya pada satu jalur, dan membuang yang lainnya. Tidak ingin lagi plin-plan dan mencoba semuanya.

Karena tidak memiliki tujuan yang pasti, akan membuat kita mudah bingung ketika banyak pilihan datang memberi tawaran. Syukurlah gemblengan kehidupan membuat saya lekas menetapkan tujuan dan fokus padanya. Yakni menulis.

Kalau kamu, apa tujuan hidupmu?



Elita Duatnofa
Saya adalah seorang full time house wife sekarang. Jadi saya tahu, karena itulah seorang teman saya di Women Scrip n Co mengajak saya berkeliling kota Depok demi mencari lokasi yang pas nan sreg untuk acara pelatihan menulis anak bulan Desember nanti. Maka bertemulah kami pukul 4 sore, 23 November 2011.

Setelah bertemu tepat di depan perumahan Pesona Depok, Margonda Raya, kami meluncur ke sebuah tempat yang sudah ada di daftar kunjungan kami, Buku Cafe. Dan kami pun masuk. Netty, alias Nanet, alias Ibu Nazma, langsung menyapa dua gadis muda yang sedang duduk manis di atas sofa, yang satunya asyik dengan laptopnya, sementara satunya lagi sibuk membaca buku. Nanet pun mulai menyerang keduanya dengan pertanyaan yang bertubi-tubi. Yang ditanya cuma bengong, karena ternyata mereka juga cuma tamu di situ. Pantas saja penampilannya mahasiswi sekali, mungkin mereka mahasiswi UI yang sedang mampir.

Akhirnya kami pun bertemu dengan orang yang tepat, karyawatinya. Mulailah bertanya banyak, syukurlah penjelasan dari si mbak yang bernama Risma itu sangat mudah kami pahami. Rasanya kami berdua langsung sreg dengan tempat ini. karyawannya ramah dan bersahabat semua. Suasananya tidak bising, cenderung hening. Suhu ruangan AC-nya pas sekali. Penataan buku-buku begitu sederhana sehingga nampak rapi. Dan sofa-sofa cantik itu, tertata dengan sangat ciamik.

Tapi kami masih harus survey ke tempat lain, Zoe Library Cafe. Tempat yang terakhir ini pada dasarnya memiliki konsep yang mirip dengan Buku Cafe. Hanya saja, Zoe lebih bising karena musik diperdengarkan dengan cukup keras di sini, ditambah lagi tempat ini konsepnya ruangan terbuka, jadi terbayang kaaan? Bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang, membuat kami ragu untuk melaksanakan pelatihan di sini. Anak-anak usia SD itu, apa bisa mereka tetap fokus di tengah suara kendaraan yang melintas? Saya ragu.

Survey dinyatakan selesai, tinggal buat laporannya. Soal keputusan tentu bukan di tangan kami, tapi di anggota dewan WSC, hehehe. Perut yang agak lapar membuat kami tergoda untuk mampir di KFC Plaza Depok dengan dalih banyak yang harus dibicarakan. Berbincanglah kami di situ sampai maghrib. Lalu dilanjutkan ke rumahnya Nanet, masih kawasan Depok.

Begitu pembicaraan yang akhirnya melenceng kepada bisnis bimbel tersebut selesai, saya pamit pulang. Tapi tak langsung pulang, karena harus mampir ke JNE untuk mengirimkan beberapa paket orderan customer online saya. Saya membayar, selesai, dan pulang. Tapi lagi-lagi tak langsung pulang, karena harus mampir di warung tenda, terlanjur janji sama suami dan anak-anak kalau saya akan pulang membawa makanan. Saya tahu mereka lapar, dan tetap bersikeras menunggu saya pulang agar bisa makan malam bersama.

Makanan pun saya pesan. Kemudian sibuk kembali dengan dunia sendiri, SMS-an dengan beberapa teman sekaligus, ya... autis!  Beberapa saat kemudian pelayan datang membawakan makanan pesanan saya. Oh my God, sebanyak itukah yang saya pesan??? "56 ribu, Mbak," katanya memberi tahu saya. Banyak juga ya yang saya pesan, kok saya nggak sadar sudah pesan makanan sebanyak itu. Apalagi porsi makan anak-anak kan biasa-biasa saja.

Saya pun membuka tas dan meraih dompet. 56 ribu ya, gumam saya. Tapi... tidak saya dapati ada uang sebanyak 56 ribu di dompet juga tas saya. Cuma ada... 28... ribu! Coba telepon suami, tapi tak dijawab, jangan-jangan ketiduran. Telepon ibu, minta tolong dianterin uang, juga ga dijawab, padahal baru beberapa menit yang lalu SMS-an. Saya mulai resah, mau ditaruh mana ini muka yang katanya mirip Kattie Holmes habis kecemplung sumur. Semua mata melirik ke saya, bukan karena naksir tentunya. Tapi karena... mungkin iba, atau simpati, atau mungkin juga jijay. Ah, saya tak mau berspekulasi. Saya tidak butuh itu, saya butuh uang!

Dengan langkah tergontai berselimut malu, saya dekati si pelayan, lalu berbisik, "Mas, ini 28 ribu saya, sisanya saya ambil dulu di rumah ya. Kalo ngambil di ATM juga malah tambah jauh, hehehe. Maaf ya mas ya." dan saya pun meninggalkannya.

"Mbak, Mbak! Ini dibawa aja dulu makanannya, nggak apa-apa."
"Oh, nggak, Mas. Nggak. Biar saya ambil dulu uangnya ya." begitu saya bilang, demi mempertahankan harga diri saya yang nilainya ternyata cuma 28 ribu. Oh my god.

Dan pulanglah saya ke rumah, ke rumah ibu saya maksudnya, bukan ke rumah sendiri karena tak enak dengan suami, sudah pulang telat, bikin malu pula. Setelah dapat uang 30 ribu dari ibu untuk menutupi kekurangan, saya kembali lagi ke warung tenda tadi untuk mengambil pesanan dan membayar sisanya. Selesai, dan saya kembali pulang, kali ini ke rumah saya sendiri yang jaraknya hanya 100 meter dari rumah ibu saya.

Pelajaran:
1. Jangan memesan makanan saat asyik bermain handphone, jika si pelayan bertanya, acuhkan saja dulu. Ini penting demi menjaga kesadaran penuh Anda. Cukup lakukan satu hal saja jika tak mampu melakukan banyak hal di waktu yang sama.
2. Bawa kalkulator pribadi kemanapun Anda pergi. Ini mudah, karena semua ponsel memiliki fasilitas ini. Dan selalu ingat-ingat, jumlah uang yang sudah Anda keluarkan sebelumnya, untuk memastikan berapa sisa uang yang Anda punya di dalam dompet. Sebab tempat-tempat seperti warung-arung tenda tidak terdapat logo "prima", jadi tidak bisa debit.
3. Biasakan memasak setiap hari, terutama ibu-ibu. Jadi Anda tidak perlu memikirkan membeli makanan di luar, sehingga kejadian seperti itu tidak perlu terjadi. Anda hanya perlu pulang dan menyantap makan malam bersama keluarga.

Semoga bermanfaat ^_^


Dengan penuh rasa malu tapi lucu,
Lieta