Showing posts with label B'day Poetry. Show all posts
Showing posts with label B'day Poetry. Show all posts
Elita Duatnofa
30 tahun. Heheh. Kalo ngucapin kata "30 tahun" itu saya pingin ketawa sendiri. Serasa ditabok, ditampar, terus diunyeng-unyeng. 30 tahun, ciiiin! itu jumlah umur saya sekarang, tepatnya 23 November kemarin. Ah padahal jiwa saya masih terperangkap di usia 25. (ngarep)

ngomong-ngomong, jelang ultah yang ke-30 kemarin. sebenernya saya udah GR tingkat tinggi. saya pikir di usia yang spesial ini saya bakalan dapet surprise apaaa gitu dari ayahnya anak-anak. Saya ngayal bakal dibangunin di pagi hari dengan kue tart berhiaskan 30 lilin di atasnya. sayangnya saya lupa berdoa supaya khayalan saya itu jadi kenyataan, sehingga apa yang saya khayalkan itu tetep jadi khayalan doang. hiks.

sebenernya saya bukannya nggak dapet kado. dapet sih. tapi dikasihnya justru sebelum hari ultah saya, dan masih dalam bentuk mentahan pula, bukan barang. bukannya nggak seneng, seneng sih. dan bukannya nggak bersyukur, bersyukur mah bersyukur. cuman saya jadi nggak merasa surprise gara-gara disuruh beli kado sendiri. hu hu hu. seneng sih seneng, tapi nggak greget, kurang cetarrr membahana gitu kalo kata Syahrini.

tapi emang bener ya, orang sabar tuh ada aja hadiahnya. (hahaaah... jadi maksudnya lo sabar gituh? :p)
di antara segitu banyaknya orang yang ngucapin selamat dengan embel-embel minta traktiran, ada satu orang yang rada beda sama yang lain. nih orang ngucapin selamat dan ikut berdoa yang katanya sih isi doanya itu rahasia. udah gitu, dia pula yang mau nraktir: tiramisu cake. sssst... jangan suudzon dulu, orang yang saya ceritain ini perempuan kok! sesama teman menulis dan kebetulan juga rumahnya nggak terlalu jauh. tapi demi keamanan dan kenyamanan bersama, saya nggak mau sebutin kalo orang itu adalah mba Umiq. takutnya mba Umiq risih kalo saya sebutin kebaikannya di sini.

Tapi ngomong-ngomong ulang tahun. Jujur aja saya ngerasa udah 2 tahun ini ulang tahun saya menghasilkan sesuatu. Yang mungkin sepele buat orang lain tapi gede banget artinya buat saya. Ulang tahun yang duluan, alias ultah saya yang ke-29, novel berantai yang notabene bikin nama saya pertama kalinya ada di buku, terbit. Jadilah saya menganggap itu sebagai kado ultah saya yang paling indah. Dan ultah yang ke-30 ini, buku tutorial hijab yang bikin nama saya nemplok di situ... juga siap edar. Beeeeuh, bener-bener ini kado ulang tahun yang bikin saya deg-deg seeerrr. Sssst... itu adalah pertama kalinya pose-pose saya ada di buku, dan dibeli orang pula tuh buku yang ada foto sayanya. Hihihihi.Yaaa, anggap aja ini kebahagiaan yang tertunda dari ultah-ultah saya yang dulu, soalnya seingat saya dari tahun 2007 sampai tahun 2010 ulang tahun saya kelabu terus. hu hu hu. Sendirianlah pokoknya.

Ya, inilah saya di usia 30 tahun. Masih belum bijak, masih banyak kekurangan. Masih ingin terus memperbaiki diri. Semoga semakin baik setiap hari, amiin.





Elita Duatnofa
Biasanya di hari ulang tahun saya sendiri, saya selalu menuliskan sebuah puisi yang mewakili keadaan saya secara keseluruhan di tahun tersebut. Tentang perasaan terbuang, mimpi-mimpi, cinta, optimisme, dan lainnya, jika dibaca pakai hati, pasti kentara sekali. :P

Ini adalah puisi ulang tahun saya di tahun 2008:

Aku

aku… 

perempuan tak tahu usia

air mataku darah peluhku nanah

terdampar di pantai tak berpasir

bergulung ombak terhantam karam

aku yang tak tahu arah…

mencari jalan pulang

namun tak ku temui



Di tahun 2009:




Camar
adalah seekor camar menari di bawah gerimis

mengepakkan sayap dan menahan dingin

mencoba berlindung di balik petang

gemuruh datang membuatnya gemetar

tapi sang camar semakin tinggi menari

lalu ia menepi...

dan hinggap di tiang jembatan tua

merunduk ke bawah

memandangi deras arus sungai

yang membawa sampah-sampah kota

lalu camar menengadah,

menatap langit

mencari sekelompok kawan

yang telah hilang di sekitar awan

kini semakin dingin

gerimis telah menjadi hujan

mencoba merobohkan tubuh camar yang kian menggigil

tapi camar kecil tak kan mati di situ

kalaupun harus mati...

ia tahu betul

di mana seharusnya ia mati...


tahun 2010:




28 Tahun

aku adalah camar yang sama dengan 28 tahun yang lalu,
bersenandung di antara embun,
pongah menantang mentari,
aku tak gentar walau terbakar,
aku tak sembunyi meski dingin bekukan aku.

Sendiri ku menanti senja,
Terpenjara, terikat, terjerembab.
Bersandar pada surya yang segera beranjak,
Oh, cahya… diamlah kau di sini.
Menggantung pada waktu yang mendekat pada bulan.
Menjadikanku bisu akan kata-kata yang hanya bersorak-sorai dalam keheningan jiwa.
Terpesona, pada indah aurora yang perkasa di antara titik kering petang yang meneduh.

Dari ranting kecil yang kokoh, aku bersenandung.
Bergoyang bersama angin yang kian nakal meniup dahan.
28 tahun, aku masih di habitat yang sama, hanya berganti ranting dan pohon.
Kelak… aku harus mampu berpindah.
Ke sebuah negeri dimana salju turun setiap tahun, dan musim terpecah 4.

Maka inilah tulisan saya di usia 29 tahun,





Bising, ramai, memekak
Diamlah kau dan berhenti bicara 
Kan ku bungkam engkau dengan batuan panas yang kucuri dari perut bumi

Dan telah kupandang cinta dengan mengintip dari bilik gubuk kayu nan usang
Berputar bersama pusaran angin yang membawa butiran pasir
Aku tak akan menyentuhnya dari dekat, aku tak kan terbawa

Aku tuli, dan kini ku buta
Maka tak kan ku lihat dan dengar kau
Lalu mengapa kau masih di sini?


Happy B'day To Me ^_^